Surakarta — Rabu, 2 Juli 2025, Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa angkatan 2022 mempersembahkan Pentas Penyutradaraan sebagai bagian dari mata kuliah wajib.
Bertempat di Gedung Student Center Universitas Sebelas Maret (UNS), pementasan ini menampilkan naskah dengan judul “Tamu Nyalawadi” karya Dr. Budi Waluyo selaku Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Jawa yang disutradarai oleh Bayu Mukti. Persiapan pementasan ini telah berlangsung selama tiga bulan, dengan latihan intensif pagi dan malam. “Latihan kami dilakukan di Gedung E. Untuk menjaga kedisiplinan, saya terapkan punishment bagi yang datang terlambat. Misalnya, lari keliling gedung sebanyak lima hingga tujuh kali,” ungkap Bayu (2/7).
Naskah “Tamu Nyalawadi” mengusung tema romantis penuh konflik dan perjuangan mempertahankan hak waris. Cerita berpusat pada perjuangan seorang janda dalam mempertahankan hak waris atas tanah peninggalan suaminya dan sang anak yang merantau jauh kembali pulang setelah mendengar tanah itu hendak diambil paksa oleh pamannya. Di balik alur yang dramatis, pementasan ini juga menyisipkan unsur komedi dengan latar kehidupan jalanan, serta mengangkat isu sosial seperti sulitnya mencari pekerjaan dan problematika pekerja informal yang kerap bersinggungan dengan aparat.
Dari segi teknis, biaya produksi untuk pementasan ini mencapai sekitar Rp45 juta, termasuk pengadaan lighting, backdrop, pangung, hingga logistik. Meski awalnya direncanakan di Teater Arena, beberapa pertimbangan membuat SC menjadi pilihan . “SC lebih mahal, tapi bisa menampung penonton lebih banyak,” jelas Bayu (2/7).
Menariknya pementasan ini berhasil menarik penonton dari berbagai kalangan. Selain mahasiswa, terlihat pula masyarakat umum, seperti orang tua dan siswa SMA yang menjadi sasaran utama. Kemeriahan pementasan turut dirasakan oleh penonton lintas prodi. Hania, mahasiswa PPKn angkatan 2022, mengaku sangat terhibur. “Aktingnya totalitas. Meski dari belakang kurang terlihat dan suara tidak selalu jelas, tapi pementasannya keren banget,” katanya (2/7).
Hal serupa disampaikan Amalia, penonton lainnya. Ia menyoroti kendala lokasi dan suara, tapi tetap memberi apresiasi tinggi. “Musiknya keren. Semoga tahun depan tempatnya lebih nyaman bagi penonton,” ungkap Amalia (2/7).
Di balik segala keterbatasan dan kendala, semangat kerja sama menjadi kunci sukses pementasan ini. “Kami di PBJ sudah terbiasa saling bantu. Rasa kekeluargaan antarmahasiswa sangat kuat,” tutup Bayu (2/7). Ia juga berharap pentas penyutradaraan tahun berikutnya bisa terselenggara dengan lebih matang dan fasilitas yang lebih layak. “Semoga kedepannya bisa mendapat tempat yang lebih baik dan menarik,” ungkap Bayu (2/7).
Syiva
