
Massa aksi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan para mahasiswa UNS Raya menggelar aksi simbolik September Hitam dengan mengusung keranda dan foto korban pelanggaran HAM di kawasan Tugu Gladak, Surakarta, Kamis (22/10/2026) LPM Motivasi/Danang
persmamotivasi.com, Surakarta — Suasana di kawasan Bundaran Gladak hingga depan Balai Kota Solo sempat memanas ketika ratusan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa. Kepulan asap hitam dari ban bekas yang dibakar serta riuhnya orasi memadati Jalan Jenderal Sudirman. Namun, ketegangan itu mendadak luluh saat suara sirine ambulans terdengar membelah kerumunan.
Tanpa perlu komando panjang, barisan massa yang memenuhi badan jalan langsung sigap membelah diri ke sisi kiri dan kanan. Hanya dalam hitungan detik, jalur kosong tercipta sehingga kendaraan darurat tersebut bisa melintas tanpa hambatan sedikit pun.
Aksi tanggap ini memperlihatkan sisi humanis pengunjuk rasa di lapangan. Meski arus lalu lintas di pusat Kota Solo sempat lumpuh, prioritas terhadap keselamatan jiwa tetap diutamakan para mahasiswa di tengah kerasnya orasi yang disampaikan.
Di balik aksi pengkondisian jalan tersebut, unjuk rasa ini membawa agenda evaluasi kritis terhadap kebijakan pemerintah. Adapun massa melayangkan tujuh tuntutan utama:
- Menetapkan Karhutla sebagai bencana nasional dan mengevaluasi sistem penanggulangan bencana di Indonesia.
- Mewujudkan pendidikan gratis yang tersistematis.
- Mengevaluasi secara menyeluruh penetapan desil dan memulihkan hak masyarakat.
- Memulihkan kondisi ekonomi masyarakat.
- Mengevaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN).
- Melakukan reformasi pada tubuh TNI dan Polri.
- Menghentikan praktik militerisme di berbagai daerah.
Aksi yang berlangsung hingga sore hari itu membuktikan bahwa kerasnya penyampaian aspirasi politik di jalanan tetap bisa berjalan bersisian dengan rasa kepedulian sosial.
Penulis : Danang
Penyunting : Anto
