Spanduk bertuliskan “Mumet dadi WNI? Klakson!” dibentangkan pada kegiatan Festival Sambat di jl.Gatot Subroto, Surakarta, Senin (27/7). LPM Motivasi/Syiva Alifah.
persmamotivasi.com, Surakarta–Sekelompok anak muda di Solo menggelar Festival Sambat di kawasan Jl.Gatot Subroto (Gatsu), Senin (27/7), sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Kegiatan tersebut menghadirkan pasar gratis, ruang diskusi, cek kesehatan, lapak baca, monolog, hingga live music yang seluruhnya dapat dinikmati masyarakat umum tanpa dipungut biaya.
Festival Sambat digagas secara kolektif oleh sekitar 15 anak muda dan akan direncanakan berlangsung rutin setiap bulan. Salah satu penggagas acara, Bimo (22), menyampaikan kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan bahwa tidak semua masyarakat merasakan kehidupan yang digambarkan melalui narasi ‘Solo slow living’. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menghadapi persoalan di berbagai lini kehidupan, sehingga membutuhkan ruang untuk berbagi cerita dan diskusi bersama. “Tujuan duduk bareng semua orang yang mempunyai keresahan yang sama dan memikirkan solusi secara kolektif tanpa mengharapkan pihak manapun, kita bangun kekuatan dari rakyat sendiri,” ungkapnya, Senin (27/7).
Selama kegiatan berlangsung, pengunjung tampak menuliskan sambatan pada selembar kertas yang disediakan panitia. Di sisi lain, masyarakat juga dapat memanfaatkan pasar gratis yang menyediakan beras, sayur, dan telur hasil penggalangan donasi dari masyarakat dan pedagang sejak dua minggu sebelum acara.
Festival Sambat turut menghadirkan penampilan musik dari De Kribs, DJ Raynor, dan Headbangersoc. Penampil menyebut keterlibatan mereka merupakan bentuk dukungan terhadap ruang budaya yang dibangun secara gotong royong, bukan semata hubungan transaksional. Mereka menilai bentuk apresiasi, seperti telur dan secangkir kopi merupakan simbol solidaritas dalam penyelenggaraan acara nonkomersial, bukan sebagai pengganti nilai karya para musisi.

Seorang pengunjung menuliskan keluh kesah pada lembar kertas yang disediakan oleh panitia Festival Sambat, Surakarta, Senin (27/7). LPM Motivasi/Syiva Alifah.
Salah seorang pengunjung, Hery (50), seorang juru parkir, mengaku memanfaatkan Festival Sambat untuk menyampaikan keluhannya mengenai kondisi ekonomi yang memengaruhi pekerjaannya. “Parkiran beberapa hari ini sepi. Semua tukang becak, pedagang nasi, sama orang yang di jalanan juga sama, lagi sepi,” ucapnya, Senin (27/7).
Menurut Hery, kegiatan seperti ini tidak hanya membantu masyarakat melalui pembagian kebutuhan pokok, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan menyampaikan keresahan mereka. Panitia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus menjadi wadah solidaritas sekaligus mendorong lahirnya kepedulian sosial yang tumbuh dari inisiatif masyarakat kota Solo.
Reporter: Syiva Alifah
Penyunting: Darajati Utami
