Kegiatan diskusi film Pesta Babi di Lokananta, Kerten, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Minggu (10/5). Tim Patjarmerah
persmamotivasi.com, Surakarta –Ratusan penonton hadiri pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Lokananta pada Minggu (10/5). Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai situasi kemanusiaan, konflik agraria, dan pembangunan di Papua yang dinilai masih jarang muncul dalam percakapan publik.
Kegiatan nonton bareng ini diinisiasi oleh Patjarmerah bersama Ekspedisi Indonesia Baru dan berkolaborasi dengan sejumlah komunitas, seperti Matapatjar, Kopi Aloo, Matalokal, Lokananta, Watchdoc, Jejer Wadon, Sinema Warga, Kuhate Books, Project Sasmita, IBP, Difalitera, Carpediem Bookstore, Read Aloud Solo Raya, Pendidikan Sejarah FKIP UNS, LPM Intuisi, LPM Locus, LPM Apresiasi, hingga Komunitas Mahasiswa Papua Solo.
Pemutaran film dibagi menjadi tiga sesi, yakni pukul 11.00-12.30 WIB, 16.00-17.30 WIB, dan 18.30-20.00 WIB. Setelah seluruh sesi pemutaran selesai, diskusi digelar pada pukul 20.00-21.30 WIB. Diskusi menghadirkan salah satu sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono, Maria Sucia dari komunitas Jejer Wadon, serta Melansia Wamafma, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Diponegoro asal Papua.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber membahas persoalan yang mereka nilai sebagai konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, hingga pengalaman masyarakat adat di Papua. Dandhy melihat isu Papua masih jarang hadir dalam ruang percakapan publik maupun media sosial, meski persoalan yang terjadi terus berlangsung.
Novi dari Tim Patjarmerah mengatakan antusiasme masyarakat terhadap pemutaran film cukup tinggi. Dari tiga sesi yang berlangsung, jumlah penonton diperkirakan mencapai sekitar 600 orang. Menurutnya, tingginya minat penonton menunjukkan bahwa isu Papua masih penting untuk dibicarakan, terutama di kalangan anak muda dan komunitas di Solo.
Hal serupa disampaikan Murni dari Tim Patjarmerah. la berharap generasi muda tidak hanya membicarakan isu yang sedang tren, tetapi juga mulai membuka ruang percakapan mengenai Papua. “Harapannya anak muda mau membicarakan hal-hal yang tidak hanya berkisar pada sesuatu yang trending. Ngomongin Papua juga perlu,” ujar Murni (10/5).
Salah satu penonton, Adzka Nina asal Sragen, menilai film Pesta Babi menjadi film yang dapat menghadirkan sisi kemanusiaan yang jarang terlihat. la mengaku diskusi setelah pemutaran membuat pemahamannya mengenai situasi di Papua semakin luas. “Film ini tidak cukup hanya ditonton, tapi juga perlu didiskusikan,” katanya (10/5).
Penyelenggara berharap persoalan Papua tidak lagi berhenti di pinggir percakapan publik. Pemutaran film dan diskusi ini diharapkan menjadi ruang agar lebih banyak orang mulai membicarakan dan memahami cerita masyarakat adat Papua yang selama ini jarang muncul di media sosial.
Penulis: Rafid
Penyunting: Syiva Alifah
