Bukan Seremonial Kemerdekaan, Tapi Suara Penindasan

Massa aksi Aliansi BEM Solo Raya tengah berorasi menyuarakan ketidakadilan HAM dan mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset di kawasan Tugu Kartasura, Sukoharjo, Senin (24/8). LPM Motivasi/Danang

Presiden BEM Universitas Surakarta (UNSA), Paramitha Nur Izi Astuti, menegaskan bahwa kehadiran mereka di jalanan bukan sekadar aksi simbolik seremonial Agustus-an. Menurutnya, momentum kemerdekaan harus dimanfaatkan untuk menagih komitmen negara yang dirasa makin melenceng dari pemenuhan hak-hak dasar warga.

“Ini bukan hanya aksi untuk meramaikan HUT RI ke-81, melainkan bentuk loyalitas Aliansi BEM Solo Raya dalam mengkritisi berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan HAM yang per hari ini masih terus dilakukan oleh pemerintah,” tegas Paramitha saat diwawancarai di sela aksi, Senin (24/8).

Senada dengan Paramitha, perwakilan BEM Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), Dimas Muhammad F., menyoroti bobroknya tata kelola pemerintahan saat ini. Ia menilai narasi kemerdekaan terasa hampa ketika praktik korupsi masih subur, tercermin dari maraknya Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menyeret para pejabat daerah.

“Melihat situasi negara saat ini di momentum kemerdekaan ke-81, rasanya kita belum mencapai apa yang dicita-citakan. Jawa Tengah saja sudah ada lima kabupaten yang kena OTT. Maka dari itu, kami menegaskan bahwasanya RUU Perampasan Aset ini sangat perlu dan harus segera disahkan,” ujar Dimas (24/8).

Tak hanya urusan korupsi, aksi ini juga menyasar sektor ekonomi dan sosial. Mahasiswa mendesak evaluasi total terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai belum menyentuh kesejahteraan masyarakat bawah. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kelangkaan Pertalite yang memicu kenaikan harga bahan pokok turut disuarakan sebagai bukti nyata penindasan ekonomi.

Pemilihan Tugu Kartasura sebagai titik aksi pun bukan tanpa alasan. Aliansi sengaja menggelar aksi di ruang publik terbuka ketimbang Gedung DPRD Surakarta agar bisa merangkul dan menyadarkan masyarakat secara langsung.Dimas menegaskan bahwa Solo siap menjadi pemicu pergerakan yang lebih besar apabila tuntutan ini kembali diabaikan. “Dari Solo ini, harapannya api kecil ini bisa memberikan gebrakan baru untuk perubahan. Kalau tidak ada respon dari pemerintah, kami siap menyiapkan skema dan gerakan lain untuk terus menekan,” pungkasnya.

Penulis: Danang

Penyunting: Dara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *