Massa aksi menyampaikan pernyataan sikap dalam Aksi Kamisan di Gladak, Surakarta, Kamis (10/9). LPM Motivasi/Syiva Alifah
persmamotivasi.com, Surakarta—Aksi Kamisan Solo kembali digelar di Gladak pada Kamis (10/9/2026) pukul 16.30 WIB, setelah sempat redup sejak Agustus 2025. Puluhan orang mengikuti aksi yang kembali mengangkat sejumlah isu lokal, termasuk persoalan pemulung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo dan warga Ledoksari.
Aktivasi Aksi Kamisan berlangsung di tengah persoalan lokal yang masih menjadi perhatian kelompok masyarakat sipil. Koordinator Aksi Kamisan, Akmal, mengatakan jeda pelaksanaan selama beberapa waktu lalu tidak serta-merta menunjukkan berhentinya aktivitas pengawalan terhadap berbagai persoalan Hak Asasi Manusia (HAM).
“Kita juga sampaikan, kami bukan diam, tapi kami sedang menyiapkan,” kata Akmal, Kamis (10/9).
Menurutnya, aktivasi kembali Aksi Kamisan kali ini berkaitan dengan munculnya sejumlah persoalan HAM di Solo dan juga momentum September Hitam. Persoalan pemulung di TPA Putri Cempo menjadi salah satu isu yang kembali disoroti setelah sebelumnya dibawa hingga audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah.
Selain itu, persoalan warga Ledoksari turut menjadi perhatian setelah muncul sengketa tanah dengan PT KAI. Aksi Kamisan, tambah Akmal, mendorong adanya ruang dialog antara warga dan Pemerintah Kota Surakarta serta alternatif tempat tinggal bagi warga yang terdampak.
“Selama warga belum mendapatkan hak atas ruang hidup mereka, kita akan terus update, terus menyuarakan, dan terus mengangkat isu tersebut,” ungkapnya.
Ia menyebutkan adanya usulan untuk memperluas isu yang dibawa Aksi Kamisan ke kawasan Solo Raya, seperti persoalan PT RUM, dan kasus tambang di Boyolali dan Klaten. Sementara itu, Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Solo Raya, Dimas, melihat pengangkatan isu lokal penting karena persoalan tersebut bersentuhan langsung dengan keresahan masyarakat sekitar.
“Karena itu yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, keresahan masyarakat sekitar itu yang paling utama yang harus kita angkat selain isu nasional,” ungkap Dimas, Kamis (10/9).
Ia menjelaskan persoalan regional perlu terus disuarakan agar pemerintah mengetahui kondisi yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, Aksi Kamisan dapat menjadi ruang pencerdasan bagi masyarakat dan aktivis mengenai berbagai persoalan yang terjadi di Solo. Ia mengatakan BEM dan aliansi mahasiswa siap mendukung upaya penyampaian aspirasi terkait hak-hak masyarakat.
Akmal mengatakan keberlanjutan Aksi Kamisan masih akan terus dibicarakan bersama, karena Aksi Kamisan tidak dimiliki oleh satu orang atau kelompok tertentu. Ia berharap ruang tersebut dapat melibatkan lebih banyak elemen masyarakat sipil, tidak hanya mahasiswa.
Penulis: Syiva
Penyunting: Anto
