“Ratri… tidur, jangan baca novel teruss,” omel Ibuku dari ruang tengah. Kata Ibuku anak SMA tidak boleh tidur malam-malam, nanti jerawatan katanya.
“Baik Bu,” jawabku sambil menumbangkan diriku di kasur.
Matahari terbit dan udara segar menyeruak dari jendela yang telah kubuka. Karena jarak sekolah yang lumayan jauh, aku berangkat sekolah menggunakan sepeda. Kukayuh sepeda dengan hati riang menyambut minggu baru.
Mendadak sepedaku terasa berat dan tak nyaman dikendarai. “Mbak ban nya bocor mbak!” Teriak pesepeda motor yang melewatiku. WADUUH…. mana Jarak ke sekolah masih tersisa 1 km. Tidak ada bengkel di sekitar sini dan tidak ada teman yang searah denganku.
Terpaksalah kutuntun sepedaku hingga sekolah. Dijalan, aku terus memikirkan kenapa ban sepedaku bisa bocor, padahal tadi pagi masih aman. Aaaaa jangan-jangan pakuuu! Sekejap aku berhenti untuk memeriksa dan benar, ada paku payung menancap di ban belakang sepedaku.
Dengan keadaan berantakan, aku berhasil melewati gerbang sekolah sebelum bel berbunyi. Saat masuk ke dalam kelas kulihat teman sebangkuku Gadis sedang mencari sesuatu di tasnya.
“Oy…,” sapaku sambil menepuk bahu Gadis.
“Oy… dah ngerjain tugas Bu Tutik?” Balas Gadis. Aku menjawab dengan anggukan. Sesaat setelahnya terlihat wajah Gadis mengisyaratkan kalimat “Ratri temanku yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, liat dong!” Seakan hafal dengan tabiatnya aku duduk dan langsung menyerahkan tugasku. “Lemper sama es the,” mintaku sebagai balasan dari tugas Bu Tutik.
“Pagi-pagi dah berantakan aja neng,” celetuk Gadis.
“Sepedaku bocor di depan warung Bu Sari, ketusuk paku ban belakangnya.”
“Lah terus kamu tinggal sepedanya di sana?”
“Sepedanya kutuntun sampai sekolah, untung ga telat,” jawabku. Tak lama terdengar nyaring suara bel. Aku bangkit dari tempat duduk dan mengajak Gadis bergegas untuk upacara. Saat aku merogoh tas untuk mengambil topi, kosong. KOSONG, AKU LUPA BAWA TOPI! Gawat! Aku panik bukan kepalang. Gadis menyarankan aku mencari topi tak terpakai di laci-laci meja kelas dan dia akan meminjamkan ke kelas lain namun nihil hasilnya, tak ada topi yang menganggur satu pun. Tak luput aku mencoba bertanya pada teman sekelas dan nihil juga hasilnya, tak ada yang membawa dua topi. Alhasil aku berada di barisan spesial, berjejeran dengan teman-temanku yang tidak memakai atribut lengkap dan telat.
Selepas upacara terdapat sesi pemberian pesan khusus untuk barisan spesial. Setelah pemberian peringatan, barisan dibubarkan. Aku langsung melesat ke ruang kelas dan duduk di samping Gadis yang tengah menulis paragraf teraghir tugas Bu Tutik.
“Aaakkhh siaall… kenapa aku apes banget hari ini,” gerutuku sambil merebahkan setengah badanku di meja.
“Ada apa kawan?” Jawab Gadis sambil menutup bukunya.
“Pertama sepedaku bocor lalu topiku ketinggalan… ayok ada kejutan apalagi nanti, terus ini aku pulangnya gimanaa…”
“Jangan mikir negatif dulu, kamu harus mikir positif, semua orang bakal ngalamin hari sial dan mungkin emang kamu hari ini kurang beruntung tapi siapa tau nanti bakal lebih baik. Daripada kamu ngeluh gitu, mending melangkah ke depan dan coba buat lebih tenang dan teliti biar semuanya lancar dan ga keulang lagi,” kata Gadis.
Mendengar kata-kata Gadis aku tersadar, lebih baik aku berprasangka baik terlebih dahulu dan fokus dengan apa yang akan kukerjakan. Jadikan apa yang sudah terjadi sebagai pelajaran. Perasaanku perlahan menjadi lega, rasa kesalku lenyap secara perlahan.
”Nanti pulangnya sama aku aja, tak bantu bawain sepedamu ke bengkel,” lanjut Gadis.
“Makasihh…,” jawabku dengan wajah berseri kembali.
-Renggani
