Kehilangan yang Merubah Segalanya

Silaunya sinar matahari membuat Riko terbangun dari tidurnya. Kicauan burung yang merdu diiringi dengan suara ocehan Ibu memarahi Adik karena susah bangun pagi mendatangkan suasana tersendiri bagi Riko. Seperti biasa, sarapan telah siap di atas meja makan. Riko yang baru selesai mandi langsung bergegas ke dapur untuk sarapan ditemani Ayah, Ibu, dan kedua Adiknya. Tidak diragukan lagi, masakan Ibu selalu menjadi nomor satu di hati mereka. Makanan nomor satu itu telah selesai disantap, lalu Ayah mengantar Riko dan kedua Adiknya berangkat ke sekolah yang jaraknya tak jauh dari perumahan mereka. Ya, seperti itulah kehidupan Riko setiap hari.

Lima jam berlalu dan matahari telah berada tepat di atas kepala. Para penjual es teh jumbo juga sudah mulai bermunculan. Tak hanya itu, siswa-siswi SMP tempat Riko dan kedua adiknya sekolah tengah menunggu jemputan, begitupun Riko dan kedua adiknya menunggu Ayah mereka untuk menjemput. Namun, setelah satu jam menunggu Ayah Riko tak kunjung datang entah apa alasannya. Akhirnya dengan penuh kekecewaan dan kesedihan Riko dan kedua adiknya pulang dengan berjalan kaki. Mereka menempuh perjalanan selama tiga puluh menit.

Sesampainya di rumah, Riko dibuat bingung dengan bendera kuning yang ada di depan rumahnya. Perasaan Riko dibuat berantakan ketika melihat Ayahnya menangis di sebuah keranda.

“Ayah? Ada apa ini? Mana Ibu?”

“Ini Ibumu Nak…”

“Tidak! Ayah bohong! Ibu baru saja membuatkan sarapan untuk kita tadi pagi, Ayah!”

Riko pun membuka keranda itu dan benar Ibu kesayangannya telah tiada. Riko dan kedua Adiknya menangis histeris dengan memeluk jasad Ibu mereka. Saudara terdekat mereka mencoba menenangkan Riko dan kedua Adiknya. Sedangkan Ayah yang mencoba tegar di depan anak-anak pun kini menjadi lemah tak berdaya.

Tak lama kemudian, terdengar suara ambulans menuju rumah Riko bersiap mengantarkan jenazah Ibu. Inilah saat dimana Riko dan keluarganya benar-benar hancur. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di pemakaman umum dekat perumahan Riko. Riko dengan sigap membantu petugas menurunkan jenazah Ibunya dari ambulans lalu Ayah mengantarkan Ibu sampai ke liang lahat. Saat pemakaman telah sepi, Riko merenung di makam Ibu.

“Ibu, sekarang Ibu pergi. Tidak bisa membuatkan sarapan untuk Aku dan Adik, tidak ada yang memarahi Adik di pagi hari, tidak ada lagi masakan nomor satu di keluarga ini Ibu. Aku dan Adik-adikku masih butuh Ibu begitu pun keluarga ini, tapi kenapa Ibu pergi? Maafkan aku Ibu jika belum bisa membuat hati Ibu bahagia sampai sekarang, aku janji  akan menjaga Ayah dan Adik-adikku!”

Ayah yang menyaksikan diam-diam perkataan Riko kepada almarhumah Ibunya meneteskan air mata. Ayah hanya bisa menatap Riko dari kejauhan. Ayah tak bisa berbuat apa-apa selain menangis karena hatinya merasakan kekacauan yang luar biasa.

Sesampainya di rumah Ayah masih menemui Dinda dan Putri menangis di kamar Ibu mereka. Lagi-lagi Ayah hanya bisa menangis bersama mereka. Peristiwa ini benar-benar membuat keluarga Riko mengalami kesedihan yang begitu berat.

Sehari setelah kepergian Ibu Riko yang setiap pagi selalu bersemangat sekolah, kini tak lagi bersemangat. Kini, suasana pagi tak seperti biasanya. Tak ada lagi ocehan Ibu yang memarahi Adik, harumnya masakan Ibu di dapur bahkan masakan terenak di keluarga telah hilang. Keluarga Riko yang selalu ceria menjalani hari-hari kini telah menjadi keheningan. Kini, keluarga Riko tak lagi sehangat kenangan bersama Ibu. Saat siang hari tiba, Riko membuka kulkas dan menemukan sisa masakan Ibu kemarin dan saat itulah tangisan Riko pecah mengingat masakan Ibu.

_Salma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *