Berdamai dengan Kasih Sayang

Senang rasanya melihat adikku, Arimbi tertawa sembari berlarian mengelilingi setiap sudut ruang tamu, ia berusaha menghindar dari kejaran kakak sulungnya, Kak Dewa. Setiap hari aku selalu melihat kejadian itu berulang kali. Mereka berkejaran karena setiap pulang kerja Kak Dewa selalu menjahili Arimbi. Saat ini memang Kak Dewa sudah berumur 23 tahun, ia berkerja di pabrik untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya, yaitu aku dan Arimbi. Rutinitas kita selalu sama, berangkat bersama untuk sekolah dan bekerja. Kak Dewa bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore, sedangkan aku dan Arimbi sekolah pukul 7 sampai 2 siang.

Aku adalah anak kedua yang menjalani hari-hari dengan penuh kesal dan gerutu. Ketika Kak Dewa pulang kerja membawa sebungkus makanan saja selalu Arimbi yang diberi dan aku hanya mendapat sisa. Mencium kening Arimbi saat berangkat dan pulang kerja merupakan kebiasaan Kak Dewa yang tak pernah aku rasakan.  Kak Dewa tidak pernah bertanya tentang bagaimana sekolahku atau sekedar basa-basi mengobrol denganku. Ia hanya berbicara kepadaku saat lantai kotor dan cucian piring menumpuk.

Sekolah tempatku dan Arimbi belajar adalah SD yang sama. Hal ini memudahkan aku untuk menjaga Arimbi.  Ketika pulang, aku selalu menjemput Arimbi ke kelasnya. Sepulang sekolah Arimbi bergegas masuk kamar dan tidur siang, sedangkan aku mulai mengambil sapu untuk membersihkan setiap sudut ruang di rumahku. Aku tak peduli seberapa berat tanganku saat itu, karena yang terpenting Kak Dewa tidak marah sebab melihat debu dimana-mana. Aku juga tak peduli tidak bisa bermain dengan teman-teman di luar sana. “Anak kecil sepertimu sudah saatnya belajar mengurus rumah, bukan hanya bisa main. Apalagi kita hidup tanpa orang tua!” terngiang kembali perkataan Kak Dewa ketika marah padaku. Bagiku hal ini tidak adil untuk anak kecil sepertiku, aku pun tentu membutuhkan kasih sayang seperti adikku.

Hari ini adalah hari libur semester, tidak menyangka ternyata aku tidak hanya pandai mengurus rumah tetapi aku juga bisa pandai di sekolah sebagai peringkat pertama. Kak Dewa mengajak aku dan Arimbi untuk bermain ke waterboom sebagai hadiah karena aku menjadi siswa berprestasi di sekolah. Tentu aku sangat senang, karena Kak Dewa belum pernah mengajak aku jalan-jalan sebelumnya. Kami bermain air dan naik wahana dengan riang gembira. Tidak ada hal yang menghalangi kebahagiaan kami saat itu. Aku dan Kak Dewa naik perosotan berbentuk ular yang sangat panjang. Air yang mengguyur kami terasa segar dan dengan cepat menghilangkan pikiran burukku tentang Kak Dewa. Ia sayang padaku, ia tak pernah pilih kasih, ia berkerja untuk membahagiakanku, dan memberiku hadiah berlibur seperti sekarang ini. Dan mulai saat ini, aku akan berdamai dengan kasih sayang Kak Dewa.

Waktu yang berlalu mengingatkan kami kepada Arimbi. Dimana Arimbi? Bukankah ia tadi bermain bersama kami? Tubuhku kaku, Kak Dewa dengan cepat berlari mencari Arimbi. Beberapa jam mencari,  aku melihat anak kecil digotong ke pinggir kolam renang setinggi satu setengah meter. Badan anak kecil itu seperti aku kenali, pakaiannya juga tidak asing, itu Arimbi. Kak Dewa bergegas lari menghampiri Arimbi. Kak Dewa lemas melihat tubuh adik kesayangannya terbujur kaku dan membiru. Hatiku pilu melihat peristiwa itu, air mata bercucuran di pipiku. Kepercayaan Kak Dewa kepadaku untuk menjaga Arimbi seolah sirna dalam sekejap. Kak Dewa menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kekecewaan. Entah ia kecewa karena aku lalai menjaga Arimbi atau kecewa akan dirinya sendiri. Ia menghampiriku, memeluk tubuhku sangat erat, pelukan penuh kehangatan yang belum pernah aku rasakan. Ia tak marah padaku, bahkan sepatah kata pun tak terucap dari bibir Kak Dewa. Tetapi sungguh bukan ini yang aku maksud berdamai dengan kasih sayang. Melihat Arimbi tertawa bersama Kak Dewa tentu lebih baik dari pada harus kehilangan senyum adikku untuk selamanya.

-Cay-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *