Institut Seni Indonesia Surakarta menggelar festival tari 24 jam pada Senin (29/04/2024) dalam rangka memperingati hari tari dunia. Festival ini bertajuk “Skena Menari” yang berarti bersua, bercengkerama, berkelana.
Festival yang digelar kampus ISI Surakarta dalam rangka memperingati hari tari dunia sudah terlaksana sejak tahun 2007. Sejak 18 tahun lalu, festival ini memiliki konsep 24 jam yang berarti sebagai suatu putaran yang tiada henti. “Sejak 18 tahun yang lalu, dari pertama kali dibuat itu memiliki konsep 24 jam dari sebagai tagline bagaimana dirayakan dengan menari sebagai suatu putaran yang tiada henti. 24 jam menari itu istilahnya sampai sekarang kita lakukan sebagai ajang dan pertemuan dari seni tari yang ada di nusantara bahkan internasional berada di sini untuk merayakan hari tari bersama sebagai sebuah keilmuan,” ujar Sipantolo sebagai kurator acara (29/4).
Setiap tahun festival ini terbuka untuk umum bagi sanggar-sanggar atau kelompok tari yang ingin berpartisipasi mengisi acara 24 jam menari. Bahkan pada tahun ini, ISI Surakarta berhasil menghadirkan kelompok tari dari keraton. “Sudah banyak yang mendaftar untuk bergabung termasuk bagaimana kita bisa menghadirkan keraton-keraton ini untuk bisa datang ke ISI Surakarta dan dari kelompok-kelompok yang ada di nusantara ini dan dari luar negeri ada yang datang,” ujar Sipantolo (29/4). Dalam acara ini panitia mengaku bahwa persiapan yang dilakukan cukup mendadak karena festival ini dikelola oleh para dosen yang memiliki jadwal padat. “Persiapan dari acara ini 4 bulan sebelumnya sudah melakukan persiapan dan itu merupakan persiapan yang sangat mendadak ya karena memang satu yang mengelola juga dosen-dosen ISI dan mereka juga punya kesibukan juga,” terang Handono selaku Panitia dan Kaprodi Jurusan Tari (29/4).
Beberapa pengunjung mengatakan bahwa penampilan tari tahun ini lebih matang dari tahun-tahun sebelumnya. “Tahun ini mungkin lebih matang, tersusun rapi kru-krunya lebih banyak mulai dari pendopo di dalam kampus itu juga di berbagai tempatnya ada tariannya juga,” Ujar Galih selaku pengunjung dan mahasiswa ISI (29/4). Pengunjung yang sebelumnya belum pernah datang ke festival ini juga sangat menikmati berbagai sajian tari. “Karena ini kan acaranya 24 jam menarik ya jadi kita ingin melihat tari-tariannya, karena kita kan bukan anak tari, jarang lihat anak tari gitu jadi tertarik aja,” Ujar Jasmine dan Nana selaku pengunjung (29/4).
Diharapkan dengan adanya festival tari 24 jam ini, semakin banyak yang mencintai dan ingin mempelajari seni budaya tari. Tahun-tahun selanjutnya festival ini bisa berkembang baik secara kreativitas maupun sebagai sebuah keilmuan yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai sebuah kajian yang bermanfaat bagi mahasiswa ataupun masyarakat secara umum.
_Salma
_caya
