Saat ini, menjadi mahasiswa tidak hanya tentang belajar dan meraih gelar, tetapi juga bagaimana mereka mampu bertahan dan berkembang di tengah banyaknya tuntutan dan kebutuhan hidup. Ungkapan “kuliah atau kuli ah” sering terdengar di antara mahasiswa yang harus berjuang menghidupi diri sendiri sambil tetap menjalani perkuliahan. Bagi banyak mahasiswa, pilihan ini bukanlah sesuatu yang bisa ditunda atau dianggap remeh, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi terbatas. Mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa kuliah membutuhkan biaya tinggi, sementara kondisi keuangan keluarga mungkin tidak mencukupi.
Dari situlah muncul dilema antara melanjutkan studi atau bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam konteks ini, “kuli ah” adalah istilah yang merujuk pada mahasiswa yang terpaksa bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini tentu tidak mudah, karena mereka harus membagi waktu, tenaga, dan perhatian antara dunia akademik dan pekerjaan.
Banyak mahasiswa yang mampu menjalani dua peran ini dengan tangguh. Mereka membuktikan bahwa pilihan untuk menjadi “kuli ah” bukanlah penghalang untuk meraih prestasi akademik. Banyak dari mereka yang berhasil lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan, meskipun harus bekerja keras di luar jam kuliah. Pengalaman ini justru membuat mereka menjadi individu yang mandiri, ulet, dan lebih siap menghadapi dunia kerja.
Sebagai seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu, saya pribadi merasakan manfaat dari menjalani kehidupan “kuliah atau kuli ah.” Meskipun kadang terasa melelahkan, pengalaman ini memberi banyak pelajaran berharga yang tidak saya dapatkan di ruang kelas.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi mahasiswa yang bekerja sambil kuliah membawa tantangan tersendiri. Salah satunya adalah resiko kurangnya waktu untuk bersosialisasi atau mengikuti kegiatan kampus. Hal ini terkadang membuat saya merasa terisolasi atau bahkan tertinggal dalam pengalaman kampus yang seharusnya penuh dengan interaksi sosial dan pengembangan diri.
Di sisi lain, “kuli ah” justru menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengalaman kerja sejak dini. Pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang dunia kerja. Mahasiswa yang bekerja sambil kuliah umumnya lebih matang dan siap menghadapi realitas kehidupan setelah lulus, karena sudah terbiasa dengan beban tanggung jawab dan tantangan yang dihadapi sehari-hari.
Pada akhirnya, “kuliah atau kuli ah” bukanlah pilihan yang harus dianggap negatif atau penuh beban. Sebaliknya, ini adalah keputusan berani yang ditempuh banyak mahasiswa untuk meraih mimpi, meski harus melalui jalan yang berbeda. Kami bukan hanya berjuang untuk lulus dan mendapatkan gelar, tetapi juga berusaha membuktikan bahwa kemampuan bertahan dan disiplin diri yang kami miliki akan membuat kami siap menghadapi dunia setelah kampus. Menjadi “kuli ah” adalah pilihan yang membawa kami ke arah kedewasaan, serta memperlihatkan bahwa semangat belajar dan bekerja bisa berjalan seiring menuju masa depan yang lebih baik.
_Armeida
