Kumala Ingin Hidup Bebas

    Ketika kecil, Kumala selalu dijejaki dengan satu kalimat yang sangat ia benci, “Wanita harus mengabdi kepada suami saat menjadi istri!” Sesungguhnya, Kumala bukan tidak mempercayai maupun tidak patuh terhadap aturan. Kumala ingin bebas. Kumala tidak ingin diatur. Kumala tidak ingin melayani pria seumur hidupnya. Kumala tidak sudi setiap hari harus bekerja di dapur dan kasur untuk suaminya.

    Sebutlah Kumala tidak dewasa atau lugu atau narsis, tapi ia tidak peduli. Ketika ibunya berkali-kali menyuruh untuk mencari pendamping, Kumala hanya menutup telinganya dan bergegas keluar rumah. Bermain bersama teman-temannya atau mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan pikiran mencari suami.

     Pemuda-pemuda di desanya sesungguhnya banyak yang menaruh hati kepada Kumala. Wanita berusia 26 tahun itu secara tampang lumayan, rajin, dan agamanya juga bagus. Fisiknya pun juga terhitung bagus untuk ukuran perempuan. Namun, Kumala tidak pernah menanggapi mereka yang mencoba mendekati atau menggodanya. Bagi Kumala, mereka hanya sekedar bercanda dan tidak serius. Oleh karena itu, Kumala menganggap semua laki-laki adalah ‘teman’, tidak lebih dan tidak kurang.

    Sayangnya, keinginan Kumala tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. Kemarin malam, ibunya datang ke rumah bersama seorang laki-laki setelah dari masjid. Kumala yang masih acak-acakan disuruh untuk berdandan dan menuju ruang tamu bertemu pria itu. Dan di situlah Kumala melakukan sesuatu yang bernama ‘perjodohan’. Tentu saja Kumala tidak terima dan meraung-raung setelah pria itu pergi.

“Ibu gila! Sudah kukatakan, aku tidak mau menikah!” jerit Kumala.

“Lalu kau mau menjadi perawan tua selamanya? Tak mau kau menjadi istri dan ibu?” ibu Kumala balas menjerit.

Kumala menggeleng keras-keras, “Aku ingin bebas! Tidak mau melayani siapa pun! Hidupku adalah hidupku!”

    Sifat keras kepala Kumala merupakan turunan dari ibunya yang lima kali lebih keras kepala, membuat Kumala tidak mampu berargumen lagi. Dua hari lagi, Kumala akan segera menikah dengan pria tersebut. Lantas, Kumala menghubungi temannya Rani yang tinggal di desa sebelah untuk membantunya melarikan diri. Diluar dugaan, Rani justru menawarkan hal yang gila.

“Ketimbang kau lari, mending berikan calon suamimu padaku!” ucap Rani dengan mata berbinar saat mereka bertemu.

     Kumala terdiam sejenak. Nasibnya dan Rani sama, belum menikah. Akan tetapi, Rani ingin menikah, tidak seperti dia yang ingin sendiri selamanya. Saran dari Rani memang menarik, namun itu akan memancing kemarahan semua orang. Ibunya akan menjadi bahan gosip dan Kumala akan dimaki terus-terusan. Kumala lantas menolak saran itu, ia butuh saran yang lebih baik.

     Dua hari berlalu, Kumala tidak menemukan saran apa-apa. Ia akhirnya berakhir di pelaminan bersama pria yang ia tak ketahui dari mana asalnya, bahkan tak memiliki rasa apapun kepada suaminya tersebut. Pada malam pertama ketika suaminya mencoba menyentuhnya, Kumala dengan cepat mendorongnya.

“Heh! Tanganmu itu takkan kubiarkan menyentuhku! Kau kira aku menginginkan pernikahan ini? Ini semua hanya demi ibuku!” Kumala memberikan ultimatum kepada suaminya.

    Pria malang itu hanya terdiam. Ia akhirnya menghabiskan malam pernikahannya dengan tidur sembari menggerutu. Kumala memilih tidur di luar kamar ditemani suara hewan yang baginya jauh lebih menenangkan ketimbang dipeluk seorang laki-laki. Setidaknya ia berhasil menjaga dirinya dari lelaki untuk malam ini.

    Esoknya, suaminya mencoba bermanis-manis pada Kumala. Memberikan apa yang dia mau, membelikan tas, sepatu, dan semuanya. Tapi lagi-lagi, Kumala kembali memakinya.

“Tidak usah bersikap seperti itu. Tidak akan satu kali pun aku tersentuh atau terpesona! Pahamilah, aku tidak akan pernah menjadi istri seperti yang kau idam-idamkan. Aku hanya akan menjadi perempuan bebas, sebebas mungkin tanpa dikekang lelaki maupun kehidupan sepertimu!” tegas Kumala.

     Berhari dan berbulan berikutnya, Kumala tidak lagi hidup seperti seorang istri. Di luar rumah ia berlagak seperti Pasutri, tapi di dalam rumah ia adalah seorang majikan. Suaminya tidak lagi memaksa untuk menyentuhnya. Seluruh pekerjaan di rumah mereka lakukan masing-masing tanpa ada campur tangan satu pihak pun. Kumala memasak untuk dirinya, mencuci pakaian sendiri, membersihkan bila mau, dan membeli apa yang diperlukan. Suaminya pun bertindak begitu. Setiap hari berjalan seperti itu dan suami Kumala tidak pernah protes atau mengatakan apa pun, meskipun kadang Kumala bertanya-tanya terhadap tingkahnya.

    Tiga tahun hidup dalam kepura-puraan, Kumala sadar saatnya untuk pergi. Ia sudah mengumpulkan uang yang cukup banyak hasil dari kerja mandirinya. Ia bergegas mencari destinasi tempat dimana ia bisa hidup sendiri dan memelihara beberapa ternak sebagai penghasilan. Cara satu-satunya untuk pergi, tentunya dengan bercerai.

    Kumala bergegas menuju kamar suaminya untuk mengambil berkas yang diperlukan. Ketika membuka lemari, betapa terkejutnya ia melihat tubuhnya sendiri terkulai dengan posisi duduk. Kumala memperhatikan lebih jelas lagi. Ya, itu memang dirinya! Warna kulitnya sudah mulai memudar dan urat-urat di tubuhnya terlihat jelas. Bahkan sudah tercium bau yang tidak enak, seperti bau bangkai yang menyengat.

“Demi Tuhan! Mengapa aku melihat diriku sendiri di dalam lemari ini?” Kumala ketakutan setengah mati. Ia lantas keluar rumah dan menjerit-jerit panik.

    Kumala lalu melihat suaminya sedang mengerjakan sesuatu di dinding rumah mereka. Tidak menunggu lama Kumala segera melabraknya, “Bajingan! Kau apakan aku?! Kenapa ada dua ‘aku’ di rumah kita?”

Anehnya, suaminya masih asik mengerjakan apa yang ia lakukan di dinding. Kumala memperhatikan dengan seksama, suaminya tengah menuang cat berwarna merah dengan bau khas yang amat menyengat. Bahkan, sampai membuat sakit kepala. Suaminya lalu mengecat dinding rumah dengan santai dan bernyanyi-nyanyi tipis. Kumala terperangah, kenapa ia diacuhkan dan tidak ada yang mendengar teriakannya?

    Tak lama kemudian datang sebuah mobil van berwarna hitam. Dari dalam muncul dua pria yang menyapa suaminya. Mereka lalu masuk ke dalam yang diikuti oleh Kumala. Betapa kagetnya ia ketika dua pria tersebut menuju lemari dan memasukkan tubuh Kumala yang satu lagi ke dalam sebuah kain seukuran tubuh manusia hingga mengikatnya. Kemudian badannya dibawa masuk ke dalam mobil van.

“Apa-apaan! Kenapa suamiku tidak melakukan apapun?!” pekik Kumala. Ia bergegas mendekati suaminya hendak protes lagi.

   Suaminya tengah menghisap rokok, masih sambil bernyanyi tipis. Setelah rokoknya habis, ia menoleh ke dua pria dari mobil van dan berkata pelan, “Tolong proses mayatnya dan urus berkas di kepolisian. Uang akan kukirimkan tambahan.”

“Siap, Bos. Ngomong-ngomong kenapa kau mengecat rumah lagi?” tanya salah satu dari mereka.

Suami Kumala tersenyum tipis, “Baunya harus ditutupi dengan ini.”

Dua pria tersebut masuk ke dalam mobil van dan melenggang pergi.

Sedangkan Kumala terdiam kaku, ia menatap ke bawah, melihat kondisi kakinya.

Ternyata kedua kakinya tak lagi menginjak tanah.

Suami Kumala masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Sejenak, terdengar tawa yang sangat keras dan umpatan kepada Kumala.

_Bimo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *