Sebut saja namanya Han. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Kejayaan yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sebagai sahabat, Aku melihat kedekatan Han dengan Tuhan Yang Maha Esa juga tidak tertinggal. Jadi, tidak heran mengapa ia selalu dipermudah segala urusannya. Pada waktu tertentu, aku sering menjemput Han untuk berangkat kuliah bersama. Ketika berada di kostnya, aku juga melihat Han tidak jarang memakan makanan cepat saji, salah satu contohnya adalah mie instan. Singkat cerita, aku melihat rasa pahit yang temanku alami dan membuatku heran setelah ia banyak memakan makanan cepat saji.
Tetapi, ini bukan tentang makanan…
Waktu yang kami nantikan akhirnya tiba. Selempang biru bertuliskan Cumlaude yang melekat menjadi ciri khas perjuangan keras mahasiswa dari semester awal hingga semester akhir. Saling bertukar hadiah, banyak foto bergaya kece seolah-olah menjadi pertanda bahwa kami akan lama tidak berjumpa.
Selang waktu sepuluh tahun setelah wisuda kami tidak saling bertegur sapa secara tatap muka. Semasa kuliahnya, orang tua Han memimpin perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan ternama internasional. Jadi, sebagai penerus, dia lah yang melanjutkan kekuasaan orang tuanya.
Melalui hobi membaca dan ilmu kebahasaan yang aku dapatkan semasa kuliah, aku bertekad untuk melamar pekerjaan sebagai editor di perusahaan Koran Jaya. Jarak satu minggu, aku menerima surat romantis dari perusahaan itu. Kabar baik aku diterima di perusahaan Koran Jaya bermakna bahwa usaha dan doa yang aku lakukan membuahkan hasil setelah sepuluh tahun lamanya.
Tanpa disadari, perusahaan Koran Jaya adalah cabang perusahaan yang dimiliki oleh sahabatku sendiri yaitu Han. Ketika Han berkunjung untuk mengawasi setiap cabang perusahaan, ketika di ruang pertemuan utama temu kangen setelah satu dasawarsa yang kami nantikan bersama akhirnya terjadi.
Beberapa menit selesai kami saling melepas rindu terdengar jelas ditelingaku suara langkah kaki berlari yang semakin mendekat sambil berteriak “Papa…” kemudian naik ke pelukan sahabatku. Betapa terkejutnya sahabatku yang satu ini telah mempunyai seorang buah hati yang manis nan cantik. “Ini???” ekspresi kagetku seketika muncul didepan Han dan buah hatinya. “Ya Dik, ini anakku, Diana namanya”. Balas Han. “Bukankah kamu berjanji, akan memberi kabar apapun itu termasuk pernikahanmu?”. Tanyaku. “Aku sengaja tidak memberitahu selain keluarga terdekat karena ingin memberi kejutan spesial kepada teman-temanku khususnya dirimu, Sahabat”.
Suara teriakan meminta tolong terdengar keras dari depan gedung perusahaan dan aku bergegas menghampirinya. Setelah sampai, bersama warga sekitar segera membantu untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Ragaku seperti tak bernyawa disusul cucuran air mata melihat seorang anak cantik terluka berlumuran darah sembari aku mengelus kepalanya yang menjadi korban tabrak lari. Anak perempuan itu seperti tak asing terlintas di pikiranku. Ya, ternyata benar itu adalah buah hati tercinta dari sahabatku.
Rasa sedih tak terhenti, banyak doa yang dipanjatkan kepada Maha Kuasa untuk kesembuhan putri kecil ini. Han akhirnya tiba dengan raut muka kesedihan, berlarian untuk segera melihat putri tercintanya dirawat masuk ruang ICU. Seperti bertukar cerita, Han mencurahkan seluruh kesedihannya kepadaku. Han masih sama seperti sebelumnya, berbagai nasihat aku sampaikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun Han menolak.
Pada akhirnya, disaat berkunjung ke rumah Han, aku melihat ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya. “Hentikan semua ini, Han!, Masih ada banyak jalan keluar!” teriakku. “Aku bukanlah orang tua yang baik bagi Diana, aku tidak bisa menjaganya dengan benar, lebih baik sampai disini saja hidupku”. Aku menghentikan semua itu, dan mengajak Han untuk menuju tempat beribadah.
Kecintaan seorang hamba kepada hamba Allah SWT yang lainnya tidaklah menjadi larangan. Namun, cinta kepada hamba-Nya tidak boleh melebihi cinta kepada Sang Pencipta. Layaknya makanan cepat saji, tidak selamanya memberikan efek positif kepada tubuh, sama seperti urusan dunia, tidak selamanya mudah diatasi dengan harta, melainkan harus diiringi dengan kedekatan dengan Sang Penguasa langit dan bumi. Kejadian kecelakaan putrinya, membuat Han lebih bermuhasabah diri agar tidak terlalu berlebihan dalam mencintai putrinya.
