Kelompok Peron Surakarta menyelenggarakan Pentas Laborat yang dimeriahkan oleh para pelakonnya. Pementasan tersebut diselenggarakan pada Senin, 22 Januari 2024 pukul 19.00 WIB hingga selesai. Pementasan ini diselenggarakan di Aula Gedung F FKIP UNS.
Pentas Laborat merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Kelompok Peron Surakarta. Pentas ini menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan akting dan merancang sebuah pementasan bagi anggota baru. “Pentas Laborat ini dilaksanakan untuk pentas seni bagi anggota baru yang dilaksanakan setelah kita open recruitment. Ini acara dari pengurus untuk anggota baru. Jadi, kita menyiapkan dan mengajari bagaimana membuat pentas dan sebagainya,” terang Dimas selaku panitia (22/1). Pentas Laborat kali ini menampilkan tiga judul naskah, yakni “Rumah untuk Cinta”, “Surup Nglurup”, dan “Samadi”.
Penampilan ketiga naskah tersebut didukung dengan penataan panggung dan permainan lighting yang membuat pementasan semakin hidup. Hal tersebut tentu memerlukan persiapan yang matang. “Persiapan yang pertama pasti memilih sutradara dan naskah dari bulan Desember, lalu kita berproses dari bulan Desember,” lanjut Dimas menerangkan waktu persiapan pentas (22/1). Kendati melalui proses yang padat, para aktor dan panitia merasa senang. Tia, selaku ketua panitia sekaligus pemeran Bu Bidan dalam naskah “Rumah untuk Cinta” mengungkapkan bahwa selama proses latihan, terutama saat olah tubuh, olah rasa, dan olah vokal menjadi euforia tersendiri bagi para pemain.
Pentas Laborat dihadiri oleh mahasiswa UNS, kerabat aktor, serta kalangan umum yang berbondong-bondong datang demi menikmati pementasan maupun memberi dukungan bagi para pemain. Seperti halnya Salsa, Malika, dan Kayla, sekelompok mahasiswa UNDIP yang hadir memberi dukungan untuk sahabatnya. Di samping itu, cukup disayangkan bahwa informasi mengenai Pentas Laborat ini belum tersebar lebih luas, padahal tema yang diangkat sangat menarik. “Saya kira kalau ada info seperti ini, marketingnya bisa ditingkatkan lagi sehingga lebih banyak yang tau tentang pentas ini. Karena, bagi mahasiswa kan pentas ini bisa sebagai kritik sosial. Bisa menyampaikan kritik secara seni.
Jadi, buat orang yang suka mengkritik ini sangat bagus,” ungkap Dimas seorang mahasiswa UMS yang berkunjung malam itu (22/1). Selain itu, Dimas selaku penikmat seni teater menyarankan agar di pementasan berikutnya Kelompok Peron lebih memperhatikan naskah untuk meminimalisir pengulangan dialog.
Para pengunjung berharap bahwa Pentas Laborat dapat terus dilaksanakan dengan semakin baik dan dapat menjadi branding untuk FKIP melalui pertunjukan bakat mahasiswanya dalam seni peran. Tentunya bukan hanya menghibur, tetapi juga membentuk aktor-aktor yang berkualitas di ranah seni teater, serta dapat menampilkan kritik sosial yang dikemas sedemikian rupa melalui pementasan.
_Caya
_Scarleta
