Diskusi Bersama: Kilas Balik Film Dokumenter Dirty Vote

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo mengadakan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Dirty Vote yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 20 Februari 2024.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Dhandy Laksono, bertajuk Dirty Vote merupakan film yang berisi isu-isu perihal kecurangan dalam pemilu 2024. AJI Solo mengundang sutradara dan pengisi film tersebut dalam acara nonton bareng dan diskusi film Dirty Vote. Acara ini menarik kalangan mahasiswa, civitas akademika, dan jurnalis. Para simpatisan menghadiri acara untuk berdiskusi mengenai isu-isu dalam film yang menuai berbagai pro-kontra di kalangan masyarakat. Acara ini memberikan ruang kepada pengisi film yakni Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar yang merupakan akademisi dan ahli hukum tata negara untuk mengupas berbagai pertanyaan. Acara berlangsung kondusif  dan simpatisan terlihat antusias hingga akhir acara. 

Menurut Bivitri, perlu adanya refleksi mendalam bahwa kondisi Indonesia saat ini dipengaruhi karena faktor sistem pendidikan, sehingga kita mudah dibodohi. Ia menambahkan bahwa hukum tidak dimaknai sebagai keadilan, tetapi hukum hanya dimaknai sebagai pasal Undang-Undang, aparat penegak hukum putusan pengadilan, dan semua itu dibuat oleh manusia yang mempunyai kepentingan di belakangnya. “Yang saya khawatirkan, banyaknya politik kotor saat ini menyebabkan peradaban politik Indonesia tidak akan maju. Mahasiswa tidak diberi ruang untuk berpikir kritis, mahasiswa tidak pernah diajak dan diberikan ruang yang aman untuk mendiskusikan perihal hukum di Indonesia,” tegas Bivitri (20/2).

Bicara soal menyuarakan, menurut Feri anak muda harusnya memiliki cara berfikir sendiri meskipun kekuasaan sedang tidak berpihak. “Keberpihakan tersebutlah yang dapat menyebabkan kesalahan persepsi yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar,” jelas Feri (20/2). Ia juga menyatakan, untuk apa sibuk bertapa ilmu pengetahuan tetapi tidak ada pergerakan dalam perbaikan demokrasi?

“Jangan pernah berfikir untuk menjadi ahli, tokoh, atau sarjana terlebih dahulu dalam melakukan perlawanan,” tegas Zainal (20/2). Menurutnya, hal ini perlu adanya tekad dan keinginan yang kuat. “Pada masa ini sudah dianggap tidak masuk akal jika kita melakukan gotong royong, aneh jika membicarakan swadaya, dan dianggap minoritas kalau kita berani,” papar Dandhy Laksono (20/2). Padahal, hal itulah yang menurutya penting dilakukan untuk pembangunan demokrasi. 

_Caya

-Anya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *