Saya Mahasiswa Pendidikan yang Ogah Ikut Kampus Mengajar

Cr: Google

Memasuki semester empat, saatnya mulai mencari kegiatan di luar kampus dan organisasi. Ikut kepantiaan, relawan, dan magang. Salah satu kegiatan terbaru yang cukup menjanjikan adalah Kampus Mengajar dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Kampus Mengajar sendiri adalah kegiatan dimana mahasiswa menghabiskan sekitar satu semester dengan menjadi guru di sekolah yang telah ditentukan. Program ini sifatnya direkomendasikan, tidak wajib. Jika sudah mengajar, maka mahasiswa fakultas pendidikan pasti akan berbondong-bondong mengikutinya. Hal itu karena memang mahasiswa difokuskan untuk menjadi calon guru.

Sayangnya, saya yang juga mahasiswa pendidikan yang tidak terlalu berminat mengikuti Kampus Mengajar. Berikut beberapa alasannya.

Kurang menyukai kegiatan mengajar

Meskipun sudah mendapatkan ilmu tentang ajar mengajar, entah kenapa sampai hari ini masih tidak tertanam rasa suka terhadap kegiatan mengajar ini. Bahkan sejak semester satu pun sudah ditanamkan pola pikir bahwa lulusan pendidikan akan tetap menjadi guru, tidak sedikit pun muncul minat untuk mengajar. Faktornya tentu ada banyak, salah satunya adalah saya bukan tipe yang senang untuk berbicara di depan umum. Lebih lagi jika audiens atau pendengarnya adalah anak-anak. Berbicara di depan sesama mahasiswa saja masih sering belepotan, apalagi anak-anak. Masih ada kegiatan lain yang menarik minat saya selain mengajar.

Untuk itu, daripada nanti anak-anak ini tidak mengerti materi yang saya sampaikan dan saya juga setengah hati dalam mengajar mereka, maka lebih baik tetap masuk kuliah seperti biasa saja alih-alih ikut Kampus Merdeka.

Alur konversi yang masih tidak jelas

Betul sekali kawanku, alur Kampus Mengajar itu tidak semuanya jelas. Khususnya urusan konversi SKS mata kuliah. Disclaimer dulu, tiap kampus pasti berbeda alur konversi ini, jadi izinkan saya memberi ilustrasi berdasarkan pengalaman kakak tingkat yang mengikutinya. Kakak tingkat saya angkatan 2020 yang mengikuti Kampus Mengajar, mata kuliah mereka langsung terkonversi dengan lancar. Nah khusus tahun saya, masih belum ada regulasi yang jelas dari prodi. Bahkan menurut info terbaru, tidak semua mata kuliah bisa dikonversi.

Info terbaru pula, kakak tingkat saya mengatakan jika kebijakan Kampus Mengajar di prodi saya berbeda setiap angkatan ternyata. Maka, daripada pening sendiri, mending kuliah seperti biasa saja. Jelas dan tidak ribet, meskipun tugas-tugas kuliah tetap saja bikin ribet.

Tetap ada kegiatan mengajar wajib fakultas

Sekedar informasi, di jurusan pendidikan akan selalu ada yang namanya kegiatan mengajar dan itu wajib. Namanya juga calon guru, mengajar itu tidak bisa dihindari. Jika di kampus saya, namanya Pengenalan Lapangan Persekolahan atau PLP yang dilaksanakan di semester tujuh. Bedanya dengan Kampus Mengajar, PLP ini wajib. Bukan pilihan dan tentunya masuk ke dalam mata kuliah wajib. Bedanya lagi, PLP ini tidak mendapatkan uang seperti Kampus Mengajar. Tapi tetap saja, daripada ikut mengajar dua kali saya lebih memilih sekali mengajar lewat kegiatan PLP ini.

Magang dan studi Kampus Merdeka yang lebih menggoda

Dalam rangkaian kegiatan MBKM ini, ada juga program lain yang bernama Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Sebuah kegiatan yang terlihat jauh lebih menggoda di mata saya. Bayangkan jika ikut magang itu, bisa mendapat relasi dengan bos perusahaan. Peluang mendapat kerja bisa meningkat, lebih lagi jika kinerja bagus. Kegiatan MSIB ini adalah kegiatan MBKM yang memang menggoda seorang anak pendidikan seperti saya yang terus digadang jadi guru. Mana tahu bisa jadi pegawai korporat.

Tentu saja tidak ada unsur menyalahkan dari semua poin yang ada di atas. Siapapun yang ingin meikuti Kampus Mengajar, ya silakan. Semua kegiatan itu positif, namun tidak semua kegiatan positif itu diminati semua orang. Kampus Mengajar itu kegiatan yang bagus untuk mereka yang memang berniat menjadi guru, khususnya dari jurusan pendidikan. Tapi bagi saya yang belum terlalu fix ingin menjadi guru, kegiatan lain jauh lebih terlihat bermanfaat. Akhir kata, salam pendidikan.

-Guntur Rahardjo-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *