Bertema “Sirnaning Sewu Memala”, Kampung Sewu tetap melestarikan kebudayaan Apem Sewu. Dihadiri Walikota Teguh Prakosa, acara Apem Sewu sukses menghidupkan kehangatan dan gotong royong masyarakat di Kampung Sewu.
Setiap tahunnnya, Kampung Sewu menggelar acara guna melestarikan tradisi. Tradisi yang dimaksud adalah pembuatan Apem Sewu. Tradisi yang sudah turun temurun sejak dulu ini pada awalnya bertujuan menolak bala karena adanya wabah pagebluk yang meresahkan masyarakat pada kepercayaan zaman itu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman tujuan dari tradisi ini berubah untuk melestarikan budaya dan menjadi wadah masyarakat Kampung Sewu untuk lebih dekat satu sama lainnya. Selain itu, kebudayaan ini dapat membuat Kampung Sewu lebih terkenal oleh masyarakat luar karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh kampung lainya. Apem sendiri adalah makanan tradisional khas Jawa yang terbuat dari tepung, kelapa, dan tape. Dikutip dari fimale.com dalam sejarahnya, apem diperkenalkan pertama kali oleh Ki Ageng Gribig. Kata apem berasal dari bahasa arab yaitu “Affuan’’ atau “Afuwwun” yang berarti pengampunan. Namun, karena masyarakat kesulitan dalam penyebutannya maka dilebur menjadi apem hingga saat ini. Disebut Apem Sewu bukan karena jumlahnya ada seribu, namun karena masyarakat Jawa jika menemukan sesuatu yang jumlahnya banyak sekali maka disebut sewu.
Pada awalnya, Apem Sewu diadakan dengan cara memasak apem yang akan dikemas dan didoakan bersama-sama setiap bulan Syawal. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman maksud dan tujuan diadakannya Apem Sewu ini berubah menjadi menarik wisatawan untuk mengunjungi Kampung Sewu. “Sekarang statusnya untuk event budaya, bukan untuk tolak bala lagi karena perkembangan jaman,” jelas Arif Pambudi sebagai Ketua RW Kampung Sewu.
Budaya Apem Sewu diadakan dengan berbagai rangkaian acara, salah satunya yaitu pagelaran lakon dengan judul “Sirnaning Sewu Memala”, yang berarti hilangnya seribu marabahaya atau hal-hal negatif. Judul ini diangkat dari tema budaya Apem Sewu yang diadakan. Pagelaran lakon mengangkat cerita mengenai upaya perjuangan hidup membasmi musibah yang selalu menjadi penghalang demi mencapai ketenteraman dan kejayaan sejati dalam hidup. Selain pagelaran lakon, juga terdapat lomba-lomba yang diadakan untuk masyarakat Kampung Sewu, seperti lomba membuat apem dan lomba kreativitas kirap. Lomba ini diikuti setiap RW untuk mengirimkan hasil terbaiknya yang nanti akan dinilai oleh juri.
Acara Apem Sewu ini tidak hanya kental akan kebudayaannya, tetapi juga kental akan semangat kekeluargaannya. Nita, salah satu warga RT 2, RW 2 Kampung Sewu mengatakan bahwa dari rangkaian lomba dan acara Apem Sewu ini terdapat koordinasi yang baik sehingga menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, kebersamaan, dan kekompakan. Seperti yang terlihat dalam rangkaian Apem Sewu, masyarakat bergotong royong dalam melangsungkan acara agar dapat berjalanan lancar. Anak muda dan bapak-bapak bergotong royong untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran, sedangkan ibu-ibu bergotong royong untuk memastikan kesehatan dan keselamatan keluarga dan masyarakat sekitar terjamin. “Kalau untuk menang itu memang bukan menjadi tujuan utama kami, yang penting itu kebersamaan kita untuk saling menjaga satu dengan satu,” ujar Nita.
Perkembangan zaman saat ini membuat budaya-budaya mulai terancam posisinya. Nita sebagai ibu muda, berharap agar generasi saat ini atau yang sering disebut Gen Z mau melestarikan budaya di sekitar kita. Terutama, generasi muda Kampung Sewu agar dapat meneruskan budaya Apem Sewu dan budaya-budaya lainnya. Nita juga menambahkan agar generasi muda mau ikut organisasi kemasyarakatan dan membangun wilayah untuk maju. Jika bukan generasi muda, siapa lagi yang akan bertanggung jawab untuk mengembangkan wilayahnya.
_Ais
