To My Youth

Netra cokelat menatap sendu pantulan wajahnya pada genangan air hujan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, suhu dingin yang terasa menusuk tulang diabaikan. Kini, taman kompleks rumahnya sudah sepi karena hujan. Namun tak ada niatan seinci pun ia beranjak dari duduknya. Gadis itu menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan.

Gadis berambut kemerahan itu tak peduli lagi jika ia akan terkena demam di keesokan hari. Apapun itu asalkan dia bisa mendinginkan kepalanya yang terasa ingin meledak. Batinnya berkecamuk, berbagai masalah pikiran meronta-ronta memenuhi otaknya meminta untuk diselesaikan.

Tujuh belas tahun, adalah usia awal menginjak masa dewasa yang telah dinanti-nantikan sebagian orang. Usia dimana kau bisa dikatakan hampir terlepas dari tanggung jawab orang tua dan memulai hidup dengan pilihanmu sendiri. Sehingga ulang tahun yang ke-tujuh belas akan disebut ‘Sweet Seventeen‘ sebagai bentuk kelegalan umur seseorang.

Tetapi tolong jangan senang dulu. Karena ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum dirimu menginjak tujuh belas tahun. Mental, misalnya.

Rin Clearestia tak pernah tahu, bahwa sejak usianya menyentuh angka tujuh belas, ia dapat melihat lebih jelas tentang kepelikan dunia. Segalanya tak lagi sama seperti dulu. Warna-warni kebahagiaan yang kala itu sering dirasakannya kini mulai memudar. Berganti menjadi keraguan dan ketakutan akan masa depan. Pelanginya terkikis, menghilang perlahan meninggalkan awan abu-abu beserta petir yang menyambar.

Ah, gadis yang duduk di kelas akhir sekolah menengah atas itu sudah tak tahu lagi berapa kali ia menjatuhkan liquid bening sejernih kristal dari matanya. Menangisi diri yang tak mampu membuat keputusan dengan cepat. Ia masih takut untuk melangkah sendirian tanpa pemandu jalan.

Dan sore ini, air matanya bahkan segan untuk kembali menetes. Yang tersisa hanyalah pandangan kosong pada netra cokelat dan rintik hujan yang mengenai wajah manisnya. Tangannya bergerak untuk memeluk lutut, kemudian ia tenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan.

Gadis bernetra cokelat itu sudah lelah. Muak dengan semua pilihan rancangan masa depan yang harus dia capai. Batinnya belum sanggup menerima segala tekanan. Mentalnya tak cukup kuat untuk menahan beban berat dipundak.

Karena jalan apapun yang ia ambil akan menentukan masa depannya.

Tidak ada lagi waktu untuk bermain. Di dunia ini, banyak yang lebih berbakat daripada dirinya. Banyak orang yang lebih mampu darinya dengan mengikuti bimbel di luar sekolah. Satu-satunya cara untuk meningkatkan nilai sebagai anak yag terlahir di keluarga berekonomi menengah ke bawah sepertinya hanyalah dengan bekerja keras.

Gadis berambut kemerahan itu sudah belajar dengan keras sejak memasuki kelas sebelas. Dirinya mencatat apapun yang menurutnya perlu dicatat, mengerjakan seluruh soal yang bisa ia kerjakan. Namun kenapa, dunia seakan tak pernah memihaknya?

Sang gadis Clearestia lelah. Menangis tak akan pernah bisa mengubah apapun. Mau berapa kali ia bersedih, namanya tidak akan pernah muncul di list nama siswa yang lulus SNMPTN yang keluar seminggu lalu. Persetan dengan belajar, Rin sudah muak. Penat dengan segala bidang pelajaran yang mengharuskan para siswa untuk menguasai semuanya. Kepintaran menjadi tolak ukur kesuksesan. Dan mereka dipaksa untuk menempati peringkat yang bagus secara keseluruhan.

Ah, sudah berapa kali pemikiran untuk hilang dari muka bumi terlintas dibenaknya? Berapa kali lagi, ia harus menyalahkan dirinya sendiri atas ketidak-kompetenannya?

Gadis bernetra cokelat itu berteriak dalam hati. Merutuki diri yang selalu tak bisa menghafal materi dengan cepat, menghina diri yang teledor dalam mengerjakan soal hitungan, dan bertanya-tanya apakah perjuangannya selama ini hanya sebuah kesia-siaan.

“Capek,” lirihan itu dilontarkan bersamaan dengan berhentinya rintikan hujan yang mengenai tubuh mungil.

Rin mengangkat kepalanya, merasa heran dengan tubuhnya yang tidak basah meski suara rintikan hujan masih terdengar jelas di telinganya. Netra cokelat membulat sempurna saat menangkap figur seseorang yang sangat dikenalinya. Pemuda itu berdiri tepat di hadapannya, memayungi dirinya yang bahkan sudah basah kuyup, membiarkan rinai hujan menubruk tubuh atletis pemuda berambut kecokelatan yang hanya dibalut jaket tipis.

“…Zen?”

Zen Alpheratz—salah satu orang yang memiliki bakat kepintaran di segala bidang, keluarga yang lebih dari mampu, dan keberuntungan di atas rata-rata itu sedang berdiri di depannya. Teman masa kecilnya yang selalu membuat Rin merasa insecure, kini berdiri memayunginya.

“Suaramu serak. Udah berapa lama kamu kehujanan?”

Seperti biasa, Zen selalu berbicara dengan wajah stoic dan nada datarnya. Rin membuang muka. Gadis itu hanya diam tak menjawab, membuat sang pemuda bernetra obsidian menghela nafas. Payungnya diserahkan pada Rin, Zen mengeluarkan sebuah jaket merah miliknya dari dalam totebag anti-air. Tanpa mengatakan apapun, ia menyampirkan jaketnya pada tubuh mungil teman masa kecil yang mulai menggigil kedinginan.

“Ibumu khawatir. Kamu pergi di jam belajarmu tanpa pamit. Di luar hujan, terus kamu nggak balik-balik,” ujarnya.

“…bukan urusanmu.”

Mendengar itu Zen berdecak. Pemuda itu berjongkok, netra obsidian yang selalu tampak berkilau itu kini bersitatap dengan netra coklat sang gadis Clearestia. Kedua tangannya mencengkram lembut pundak Rin, berusaha memberinya keyakinan.

“Rin, kamu nggak mau cerita sama aku? Ini masih tentang hasil SNM, iya?” Nada suara Zen yang melembut membuat netra cokelat berkaca-kaca.

Dada gadis berambut kemerahan itu terasa sesak. Rin kembali menangis untuk yang kesekian kalinya. Bahunya bergetar seiring dengan isakan lirih yang terdengar menyayat hati. Menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk di hati dan pikirannya.

“Zen, aku capek…”

Sang pemuda Alpheratz menepuk pelan bahu kanan gadis itu, mencoba memberi sedikit ketenang padanya. Zen membiarkan Rin menangis selama lima menit, tak peduli dengan dirinya yang mulai basah kuyup karena tidak berada dalam naungan payung yang dipegang sang gadis bernetra cokelat.

Saat dirasa teman masa kecilnya mulai tenang, Zen membuka suara dengan nada lembut yang jarang sekali ia lakukan, “Rin, kalau capek itu istirahat, bukan malah melarikan diri kayak gini.”

“Berhenti, istirahat yang cukup, jalan-jalan sambil refreshing juga boleh. Udah berapa bulan kamu nggak menghirup udara segar karena diem di kamar, belajar? Ambis boleh, tapi jangan sampai kayak gini,” pemuda itu tersenyum tipis.

“Istirahat dulu barang dua hari nggak ada salahnya. Kalau kamu udah baikan, ayo bangkit lagi. Aku tungguin kamu di universitas incaran kita. Aku bantuin kamu belajar sebanyak yang kamu mau. Jadi, take your time as much as you want. Aku nggak bakal ninggalin kamu sendirian, Rin.”

Puncak kepala berhelai kemerahan ditepuk pelan. Sang gadis kembali terisak, membenarkan perkataan teman masa kecilnya. Dia terlalu keras pada dirinya sendiri. Membawa diri menanggung semua beban di pundak mungil. Memaksakan diri belajar tanpa henti.

“Tapi kalau aku nggak gitu, aku nggak bakal bisa masuk kuliah, Zen. Aku nggak kayak kamu,” lirihan tertahan itu membuat sang pemuda berganti posisi untuk duduk di sebelahnya.

Payung biru yang dipegang Rin kini menaungi keduanya. Melindungi mereka dari terpaan hujan yang sejak tadi kian menderas. Bau petrikor yang menyapa indra penciuman mulai menciptakan suasana yang lebih tenang.

“Iya, aku tau. Kamu udah belajar dengan baik, Rin. Aku tau itu lebih dari siapapun. Semua usahamu nggak ada yang sia-sia. Ingat, semua pencapaianmu selama ini sampai bisa nyentuh ranking tiga di kelas, semuanya berkat kerja kerasmu,” pemuda itu menjeda kalimatnya.

“Instead of letting yourself sink into the abyss of insecurity, why not try to recall the moments that made you proud of yourself? You can increase your confidence and believe you can do it. Masih ada UTBK, perjuanganmu belum berakhir, Rin. And I always believe that you would make it.”

“…beneran?” Zen menjawabnya dengan anggukan.

“Kamu tahu kelemahanmu, menerima keadaan dirimu, mencari cara untuk meningkatkan kemampuanmu, dan selalu berdoa untuk menjadi yang lebih baik lagi. Bukankah itu luar biasa? You’re such an amazing person I’ve ever know.”

Mendengar itu, tekanan yang menindihnya seakan menghilang. Gadis berambut kemerahan itu terkekeh pelan. Ia mencengkram erat jaket merah milik pemuda Alpheratz, kembali yakin bahwa ia tidak pernah semdirian. Seburuk apapun harinya, Rin Clearestia tidak akan sendirian. Ah, benar juga, kenapa ia tak menyadarinya?

Rin memiliki orang tua yang selalu mendukungnya dan teman masa kecil yang akan selalu berada di sisinya. Apapun yang akan terjadi di masa depan, meskipun badai permasalahan mengamuk di hadapannya, ia tak lagi sendirian.

Hatchi!” Suara bersin dari gadis bernetra cokelat itu membuat Zen terkekeh pelan. Pemuda itu beranjak dari duduknya, ia mengulurkan tangan pada sang gadis Clearestia.

“Yuk, pulang.”

Zen Alpheratz itu tidak tahu, betapa bersyukurnya Rin bisa memiliki teman masa kecil sepertinya. Presensi pemuda itu adalah supporter terkuat selain orangtuanya. Dan gadis berambut kemerahan itu akan selalu menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya.

_Arr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *