
Judul : The School for Good and Evil
Sutradara : Paul Feig
Skenario : David Magee dan Paul Feeig
Durasi : 147 menit
Genre : Fantasi, Aksi, dan Petualangan
Film The School for Good and Evil merupakan adaptasi dari novel karya Soman Chainani yang sangat populer di kalangan penonton muda. Film bergenre laga petualangan dan dunia fantasi ini dirilis pada tahun 2022. Film ini disutradarai oleh sutradara ternama Paul Feig dari skenario yang ditulisnya bersama David Mage. Dengan sentuhan visual yang megah dan tema moralitas yang mendalam, film ini mencoba membangun dunia fantasi yang penuh dengan konflik, intrik, dan keajaiban.
Cerita dalam film ini dimulai di desa Gavaldon, di mana dua sahabat, Sophie dan Agatha, menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Sophie, yang bermimpi menjadi seorang putri, memiliki obsesi terhadap kecantikan dan kehidupan glamor. Di sisi lain, Agatha adalah gadis penyendiri dengan penampilan yang sering dicemooh. Kehidupan mereka berubah ketika keduanya diculik dan dibawa ke “The School for Good and Evil”.
Namun, takdir mereka tampak terbalik. Sophie, yang yakin dirinya cocok untuk menjadi seorang putri di sekolah kebaikan, justru masuk ke “The School for Evil”. Sementara Agatha, yang dianggap tidak cocok untuk menjadi seorang pahlawan, justru ditempatkan di “The School for Good”. Kejadian tersebut memunculkan kebingungan dan konflik yang mendorong mereka untuk mempertanyakan siapa sebenarnya diri mereka. Secara garis besar, The School for Good and Evil mencoba menawarkan cerita yang dinamis tentang dualitas kebaikan dan kejahatan.
Salah satu kekuatan utama film ini adalah desain visualnya yang memukau. Sekolah kebaikan dan kejahatan didesain dengan kontras yang mencolok. Visual sekolah kebaikan dihiasi dengan warna pastel, arsitektur megah, dan suasana hangat, sementara sekolah kejahatan gelap, menyeramkan, dan penuh detail gotik. Efek visual yang digunakan untuk adegan aksi dan sihir juga cukup mengesankan, meskipun di beberapa bagian terasa sedikit berlebihan. Secara keseluruhan, visualnya berhasil menciptakan dunia fantasi yang memikat mata. Tokoh Sophie yakni Anne Caruso berhasil menggambarkan Sophie sebagai karakter yang penuh ambisi. Transformasinya dari gadis biasa menjadi sosok yang gelap cukup menarik, meskipun melalui beberapa momen emosional. Begitu pula dengan transformasi tokoh Agatha yang kompleks dan penuh konflik turut menambah keseruan dalam cerita.
Tetapi, film ini terkadang terasa lebih memprioritaskan estetika dibandingkan kedalaman cerita. Selain itu, pembangunan karakter tokoh-tokoh pendamping dalam film terasa dangkal dan kurang mendalam. Dengan durasi hampir dua setengah jam, cerita dalam film dirasa lambat dan bertele-tele terutama pada bagian awal cerita. Selain itu, banyaknya tema dalam film, seperti persahabatan, cinta, pengkhianatan, dan penerimaan diri, tidak semuanya berhasil dikembangkan dengan baik.
Meskipun demikian, penggambaran tokoh Sophie dan Agatha sebagai karakter yang bertolak belakang namun saling melengkapi, film The School for Good and Evil menyampaikan pesan penting tentang persahabatan dan penerimaan diri. The School for Good and Evil adalah film yang ambisius, dengan visual yang menawan dan tema moralitas yang menggugah. Bagi penggemar film fantasi atau mereka yang menyukai dunia dongeng dengan plot modern, film ini tetap layak untuk ditonton.
-C-
