Kerbau bergerak mengitari tanah di sawah yang telah selesai panen, sementara di sisi lain, padi-padi kuning bergerak mengikuti arah angin. Sesekali, burung-burung kecil hinggap, hendak mencuri bulir padi yang siap panen. Namun, aksi mereka digagalkan oleh seorang anak perempuan yang sigap menarik tali panjang dan membunyikan kaleng-kaleng, menimbulkan suara berisik membuat burung-burung itu terkejut dan kembali terbang tinggi.
Di pinggir sawah, dua lelaki duduk bersantai, mengibas-ngibas caping untuk mengusir hawa gerah. Salah satunya, seorang pria tua bernama Kakek Dahlan, tersenyum bangga seraya berkata, “Lihatlah Jaka, itu cucu perempuanku. Dia tidak malu menarik tali itu, bahkan dia selalu senang saat aku mengajaknya ke sawah saat panen raya.”Jaka, lelaki yang duduk di sampingnya, ikut tersenyum. “Andaikan perempuan itu cucuku, aku tak akan membiarkannya pergi ke sawah. Takut kalau kulit putihnya menjadi hitam. Tapi setelah melihat keceriaannya.. aku yakin kelak dia akan menjadi orang hebat karena didikan Kakek Dahlan. Unik sekali… dia perempuan, tapi dia hebat. Jarang sekali ada anak yang mau mendedikasikan waktunya di sawah.”
Kakek Dahlan tertawa lepas mendengar kata-kata Jaka. “Hahaha… Lihatlah, Jaka. Tidak perlu malu. Baik buruknya nasib, siapa yang tahu? Tidak ada salahnya perempuan bekerja di sawah. Lihat cucu perempuanku itu. Dengan melihatnya, aku sudah merasa cukup. Aku bangga dengan hal-hal kecil seperti ini. Kecantikan dan keelokan seorang wanita bukan hanya dilihat soal putih atau tidak kulitnya, tetapi bagaimana hatinya Jaka.”
Jaka yang merasa dinasihati hanya bisa mengangguk pelan. Kakek Dahlan melanjutkan ceritanya, “Dulu, saat pertama kali aku mengajaknya mencari belut, aku masih ingat betul betapa takutnya dia. Katanya geli. Aku menasihatinya agar berani, tapi tahukah kamu jaka apa yang terjadi? Dia menangis kencang! Aku menyuruhnya memegang utas kail dan menarik belut dari dalam lubang sawah. Dengan ragu-ragu, akhirnya dia mencobanya, dan kau tahu apa yang terjadi? Dia berhasil, Jaka! Seketika tangisnya berubah menjadi tawa. Dengan gembira, dia pulang dan menceritakan pengalamannya kepada semua orang di rumah, bahkan teman-temannya di sekolah. Katanya, itu pengalaman terbaik selama libur semester”.
Jaka tersenyum mendengar cerita itu. Ia menatap gadis kecil yang masih sibuk menjaga sawah dengan penuh semangat dalam hatinya, ia memahami bahwa keberanian dan ketulusan hati jauh lebih berharga daripada sekadar kecantikan yang kasat mata dan juga Jaka belajar banyak mengenai cara mendidik yang sederhana dan bermakna ala Kakek Dahlan, “Kek, senang ya melihat cucu perempuanmu itu tumbuh dengan benar. Jika aku melihat seorang anak menangis pasti aku akan cemas, tapi engkau malah dengan berani nya mengecoh dengan hal-hal yang tak terduga, sehingga cucumu mulai memiliki rasa berani dan rasa penasaran yang tinggi”.
Kakek Dahlan menjawab, “Tentulah bahagia dia kan cucu perempuanku, mungkin aku tidak bisa memberinya hal-hal yang luar biasa seperti orang lain yang ada di luaran sana, aku hanya bisa memberikan sekedarnya, ya semacam hal-hal sederhana saja Jaka, semoga kelak engkau bisa menjadi ayah yang hebat Jaka, bisa menjadi kakek yang baik pula,” senyum ramah Kakek Dahlan diberikan kepada Jaka sambil menepuk bahunya.
Tak terasa senja mulai turun, menyelimuti sawah dengan warna keemasan. Burung-burung kembali terbang mencari tempat bertengger. Gadis kecil itu masih riang, sementara Kakek Dahlan tersenyum penuh kebanggaan. Jaka pun akhirnya menyadari, bahwa perempuan itu adalah cucu Kakek Dahlan.
_Riana
