Garudeya

Di sebuah ruangan yang redup dan dingin, dalam suatu pendopo kayu yang berdiri kokoh dengan beragam riasan emas di sisi kanan dan kirinya, terdapat 2 manusia. Seorang ibu dengan anaknya. Mereka nampak membicarakan suatu hal atau bisa dinyatakan seolah tengah memperdebatkan suatu hal.

“Ibunda, saya yang membunuh Arok. Saya membunuh bajingan itu dengan keris Mpu Gandring. Sayalah yang telah membunuh sang raja. Dengan sisa belas kasihanmu, izinkan saya untuk meninggalkan negeri ini. Ibu, saya siap dengan konsekuensi melepaskan tahta Singasari.”

Anusapati, pangeran pertama kerajaan Singasari terlihat sedikit pucat, tapi walau demikian ia masih terlihat sanggup berdiri tegak. Dengan masih memakai Upavita ia begitu berani mendatangi ibunya. Ken Dedes, ratu pertama kerajaan Singasari, ibunda dari Anusapati justru nampak panik melebihi buah hatinya sendiri yang padahal baru saja melakukan pengakuan dosa, Dedes bahkan meremas tangannya sendiri berkali-kali.

“Anakku, Anusapati. Apa yang kamu katakan? Kamu akan menjadi raja, tidak apa tetaplah di Singasari.”

Dedes, berusaha mendekati Anusapati dan membelai tangan putranya itu.

“Ibunda, saya sudah membunuh suami ibu. Saya melakukannya karena bakti saya pada ibu, saya tidak ingin melihat ibu terjerat dalam istana. Saya tidak pernah menginginkan tahta.”

Anusapati sedikit menjauh, ia kebingungan. Bukankah harusnya ibunya, Dedes, akan membencinya setengah mati setelah ia membunuh pria ‘belahan jiwa’ yang menjadi suaminya.

“Anusapati! Kamu lupa siapa ibumu? Aku ini Ken Dedes, aku ini Dyah Ayu Sri Maharatu Mahadewi. Aku wanita dengan kekuasaan paling tinggi di kerajaan ini. Apa gunanya aku yang berupa Nareswari jika aku bahkan tidak bisa menjadikan anakku sendiri sebagai raja?!”

Dedes membalikkan tubuhnya. Membelakangi Anusapati. Matanya menatap jauh ke arah luar pendopo. Memandangi bulan purnama yang tengah bersinar terang di kejauhan malam. Anusapati hanya bisa melihat ke arah ibunya. Sebenarnya mengapa wanita itu sangat ingin ia untuk menaiki tahta. Hal itu aneh, bukankah seharusnya ia telah diusir dari keraton, ia mengakui dosa telah membunuh seorang raja, tetapi justru bisa-bisanya ibunya sendiri, ratu Singasari, justru memintanya tinggal.

“Kenapa harus saya ibu? Saya ini anak Tunggul Ametung, saya anak dari pria yang ibu benci, bukan? Ibu bisa menjadikan salah satu adik tiri saya sebagai raja. Ibu bisa menjadikan anak ibu dengan Arok sebagai raja.”

Dedes mendecih, ia terlihat menggelengkan kepalanya.

“Anusapati. Tanah Tumapel adalah milikmu. Karena kamu anak Tunggul Ametung jadi kamu harus menjadi raja. Aku bisa merasakannya, kamulah dan keturunanmu adalah mereka yang terpilih, calon penguasa atas tanah Jawa.”

Anusapati bergidik ngeri melihat ambisi ibundanya dalam rangka menjadikan dirinya penguasa atas tanah Jawa. Sedangkan ibunya, hanya terlihat tersenyum mengerikan di bawah sinar rembulan yang lembut. Anusapati merasa tidak mengenali sisi ibunya yang satu ini. Seolah bagian lain yang tak pernah ia ketahui ada dan hidup dalam tubuh wanita itu.

“Ibu, bagi ibu sebenarnya berapakah harga Ken Arok?” Anusapati bertanya untuk menghilangkan rasa curiga pada ibunya.

“Kanda Arok? Harganya sama dengan kemewahan mahkota maharaja Kadiri, karena hanya itu yang bisa dia lakukan.”

“Lalu romo bapakku, bagaimana dengan Tunggul Ametung? Berapa harganya bagi ibu?”

“Setara dengan tanah dan darah atas Tumapel.”

Anusapati makin ngeri, lalu bagi ibunya Ken Dedes, siapa sebenarnya belahan jiwanya? Atau sebenarnya semua baik Ametung atau Arok hanya alat permainan bagi Dedes dalam memainkan peranan atas tahta Tumapel?

_Aulia_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *