Labirin Perunggu Aldoria

Langit di atas kota Aldoria selalu ungu kelabu, seolah mentari lelah beristirahat di balik puncak-puncak Aetherfang. Di antara menara-menara yang menjulang, tinggallah Alyra. Bukan di rumah bangsawan, melainkan di kediaman batu kelabu yang mengapit gang-gang sempit, habitat lumut dan jamur bercahaya pasi sebagai satu-satunya hiasan.
Alyra adalah seorang penenun; jemarinya cekatan merajut benang perak menjadi jubah-jubah yang konon bisa menangkal sihir. Namun, jika jubah tersebut bisa menangkal sihir, Alyra sendiri tak pernah bisa terhindar dari nasib buruknya. Masa kecil Alyra adalah rangkaian bayang-bayang dalam kastil kecil mereka di perbatasan. Ayahnya, seorang pemimpin yang gagal, dikenal sebagai Si Pengukir Janji Palsu. Ia lebih sering berinteraksi dengan botol-botol kaca berisi ramuan pahit beraroma menusuk daripada dengan Alyra. Matanya selalu merah, suaranya bak badai tak terduga. Tangannya tak pernah memukul, tetapi menghancurkan barang-barang yang tertangkap oleh matanya, satu per satu, mengukir seringai kecil yang mengukir janji bahwa Alyra pun akan bernasib serupa. Janji Ayah yang paling akrab di telinganya adalah, “Kau ini bunga layu yang tumbuh di lumpur.”
Suatu malam, Alyra kabur. Ia hanya membawa sebuah liontin perunggu tua, berbentuk labirin melingkar tanpa jalan keluar. Setelah bertahun-tahun, gadis itu berhasil membangun kehidupan sunyi di Aldoria, menukar benang perak dengan koin tembaga, dan koin tembaga dengan kebebasan. Kebebasan beraroma debu dan dingin.
Lalu, datanglah Ares. Seorang Pemantik Api Hati, sebutan untuk orang di Aldoria yang pandai bisnis dan berkharisma. Ia memiliki mata yang tampak seperti kristal amethyst, berkilat tajam. Ia berjanji akan melindungi Alyra dari semua bayangan Sang Ayah yang masih mengekor. Alyra haus akan hangat yang tak pernah ia rasa, memberikan segalanya pada Ares.
Pernikahan mereka diadakan di bawah tebing batu megah. Alyra membayangkan, kali ini, labirin dalam hidupnya akan memiliki jalan keluar. Namun, sayangnya labirin itu justru menebal.
Ares tak pernah meninggikan suara seperti Ayahnya, ia juga tak pernah memecahkan piring. Ares jauh lebih halus, sehalus benang perak yang dirajut Alyra. Setiap Alyra selesai menenun jubah yang indah, ia akan mengambilnya dan berkata, “Ini kurang berkilau. Warnanya terlalu menyerupai benang murahan.” Ia akan mengatakannya dengan nada begitu tenang, seolah menilai sehelai daun kering. Alyra tahu jubah buatannya itu nyaris sempurna, tetapi keraguan yang ditanam Ares seperti akar yang mencengkeram erat.
Ketika Alyra bercerita tentang impiannya untuk membuka toko sendiri, Ares akan mengusap kepalanya dengan lembut dan berkata, “Alyra sayang, kau terlalu rentan, dunia luar itu kejam. Biar aku saja yang mengurus keuangan, kau cukup fokus pada tenunanmu.” Dan ia akan menyimpan koin tembaga Alyra ke dalam peti kayu miliknya yang terkunci rapat. Ia hanya memberikan Alyra jatah harian yang cukup untuk membeli makanan dan lilin.
Alyra merasa seperti penenun yang terperangkap dalam jubah buatannya sendiri. Ia mulai menghindari tatapan Ares. Tatapan yang dahulu seperti kristal hangat penuh janji, kini terasa dingin.
Suatu sore, saat senja mulai merangkul Aldoria, Alyra duduk di depan alat tenun. Ia merajut tanpa benang; hanya gerakan kosong dari jemarinya. Tiba-tiba ia menyadari. Ayahnya dahulu merusak secara terang-terangan dengan teriakan; ia adalah badai yang harus Alyra hindari. Sementara itu, Ares adalah air yang meresap perlahan ke sela-sela pondasi. Ia merusak bukan dengan menghancurkan, tetapi dengan menumpulkan. Ia mengambil cahaya dari karyanya, mengambil keputusan dari pikirannya, dan merampas kebebasan kakinya. Ia membuat Alyra menjadi hantu yang terkurung di dalam rumahnya sendiri; tak benar-benar hidup.
Alyra meraih liontin perunggu labirin miliknya. Melihat ukiran yang rumit. Dahulu, ia melihatnya sebagai simbol keputusasaan tanpa jalan keluar. Tetapi kini, di bawah pendar cahaya lentera, Alyra menyadari, labirin itu tidak memiliki pintu keluar karena memang seharusnya tidak pernah punya. Tugas labirin adalah membuatmu berjalan, berbelok, dan mencari. Tugas utama labirin adalah mengubahmu, bukan membebaskan.
Alyra tidak menangis. Ia hanya merasakan dingin yang familiar. Dingin serupa saat Ayahnya tertawa di balik botol, dan dingin serupa saat Ares menggenggam tangannya sembari menyuruhnya membuang benang warna emas yang Alyra yakini sebagai warna keberuntungan.
Alyra menggapai gunting tenun perak. Ia tidak akan memotong benang orang lain. Ia hanya akan memotong benang yang mengikatnya. Diletakkan gunting tersebut, lalu tanpa suara, ia meraih jubah perak terbaik yang baru selesai ditenun. Menoleh ke jendela. Tampak Bintang Fajar muncul lebih awal, berkilauan seperti sekeping koin tembaga di sakunya. Cukup untuk bekal.
Ayahnya telah berjanji bahwa Alyra adalah bunga layu. Ares pun telah menjadikannya tanaman hias dalam pot. Namun, Bintang Fajar Aldoria adalah petunjuk jalan bagi para pengembara. Alyra membuka pintu belakang, yang hanya menuju ke gang lumut hitam nan sunyi. Ia menembus udara dingin, jubah perak menyatu dengan pekatnya kabut senja. Kakinya melangkah ringan dan hening.
Labirin belum berakhir, tetapi kini ia yang memegang benang pemandu. Ia akan berjalan ke perbukitan Aetherfang, meninggalkan bayang-bayang suara Ayah dan tatapan Ares. Ia harus menjadi seorang pengembara, bukan sekadar penenun yang terantai. Alyra harus membuat labirinnya sendiri.


Scarleta_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *