Manusia Toxic VS Manusia Manipulatif

Terjebak dalam hubungan Toxic seperti berada di dalam lingkungan SETAN. Tekanan yang diberikan dari orang-orang sekitarnya membuat perasaan tidak nyaman, krisis kepercayaan diri, bahkan mungkin mengalami depresi.

Kasus Toxic dikalangan Masyarakat saat ini sedang hangat diperbincangkan, banyak orang yang menceritakan pengalaman-pengalamannya mengenai hubungan Toxic, baik dari pertemanan, lingkungan sosial, keluarga, maupun pasangan baik secara langsung maapun media sosial hingga tak jarang menimbulkan empati dan simpati warganet.

Namun benarkah demikian atau hanya cerita manipulasi mencari simpati dan eksistensi? Sebenarnya apa itu Toxic? Hingga banyak orang mengklaim dirinya mengalami Toxic.

Toxic Relationship atau hubungan beracun itu sendiri dapat diartikan sebagai hubungan tidak sehat yang membuat seseorang merasa tidak dipahami dan didukung atau merasa direndahkan. Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada sepasang kekasih, tetapi juga dalam lingkungan pertemanan bahkan keluarga. Berada dalam lingkungan Toxic sangatlah melelahkan memiliki dampak negatif terutama untuk Kesehatan Mental dan perubahan dalam hidupnya dapat dirasakan seperti mengisolasi diri, menurunnya harga diri (self esteem), tidak memiliki kepercayaan diri, memicu stress, gangguan kecemasan, dan akan mempengaruhi dalam membentuk hubungan sehat dengan orang lain.

Jika sudah mengalami dampak dari Toxic seperti ini yang bisa dilakukan adalah mencari ahli Kesehatan mental untuk penanggulangan agar tidak semakin parah, atau jika dirasa belum memerlukan ahli Kesehatan mental dapat mencari teman yang dipercaya sehingga masalah yang dimiliki dapat diceritakan, diharapkan tidak akan memicu stress berkelanjutan yang terpendam.

Di era ini, Informasi sangat cepat diperoleh melalui teknologi khususnya Gawai membuat banyak orang dapat menceritakan keresahanya melalui media sosial, termasuk dengan cerita-cerita Toxic, maka tak heran jika banyak cerita Toxic berkembang diunggah di media sosial karena melihat dari respon masyarakat yang seakan mendukung korban Toxic.

Banyak sekali cerita mengenai Toxic, seperti di dalam lingkungan kerja yang tidak dihargai, selalu direndahkan, dll. Cerita-cerita seperti ini memang akan mengundang simpati dan empati orang lain, banyak orang yang akan marah setelah mengetahui cerita tersebut. Tak jarang pula mereka akan menyerang pelaku Toxic tanpa mendengarkan pembelaan dari si pelaku. Karena hal ini tak sedikit pula seseorang memanipulasi cerita seolah-olah dia adalah korban hanya untuk mendapatkan dukungan dan mencari ketenaran melalui media sosial, dari kebohongan cerita yang diberikan pastinya akan merugikan beberapa pihak didalamnya.

Namun sayangnya warganet lebih mempercayai cerita yang beredar di sosial media terlebih dahulu, lalu mencari akun milik pelaku dan langsung menyerangnya dengan ketikan kritikan pedas, hal ini akan berdampak pada citra dan bahkan psikologis orang tersebut. Padahal apabila jika memang cerita tersebut adalah bohong atau si korban ternyata Playing Victim, maka dia telah merugikan pihak-pihak yang terkena fitnahnya dan justru dialah pelaku Toxic sebenarnya.

Dari pernyataan diatas, muncullah beberapa pertanyaan dari benak kita. Apakah ini Toxic Atau justru saya Playing Victim? Namun jika memang Toxic, Apakah sebenarnya Toxic  bisa diperbaiki? Lalu apakah lebih baik meninggalkan lingkungan Toxic atau bertahan? apa solusinya jika menghadapi lingkungan atau hubungan Toxic? Dan apa solusinya menghadapi orang manipulatif atau Playing Victim.

Untuk mengetahui apakah ini lingkungan Toxic atau saya Playing Victim, saya akan melihat teman-teman saya terlebih dahulu apakah mereka merasakan hal yang sama karena pastinya di dalamnya ada pelaku Toxic atau seseorang yang menyebalkan membuat lingkungan itu tidak nyaman.

Jika memang merasakan hal yang sama berarti lingkungan tersebut memang Toxic, namun jika hanya saya yang merasakan berarti ada yang salah di dalam diri saya atau mungkin saya tidak bisa beradaptasi dengan baik, hal itulah yang perlu diperbaiki. 

Lalu untuk memperbaiki hubungan yang beracun bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan untuk bertahan saja tidak akan kuat jika memiliki mental yang lemah. Dalam beberapa pengalaman Toxic Relationship dapat diperbaiki dengan berbagai cara seperti, orang yang memiliki power untuk berbicara dan mengumpulkan dukungan, berkomitmen bersama untuk melakukan perubahan sehingga dapat mengendalikan Toxic.

Perlu diingat jika tidak semua hubungan bisa dipertahankan dan diperbaiki, jika dirasa merusak kesehatan baik fisik maupun mental maka akan lebih baik untuk ditinggalkan, bertahan atau tidaknya dalam Toxic Relationship sebenarnya tergantung pada keputusan setiap individu. Dan untuk menghadapi orang manipulatif versi saya saat sudah difitnah apa lagi jika sudah dibenci warganet, saya pasti akan Speak up menanyakan kebenaranya dan memberikan kebenaran versi saya dengan bukti yang konkret. Jika dia tidak bisa membuktikan maka saya akan ambil jalur hukum untuk memberikan efek jera kepada orang tersebut.

_Ais

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *