Dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya sibuk mencuci dan menjemur baju pada sebuah bambu yang melintang. Tidak peduli peluh yang berjatuhan, ia tetap melakukannya. Parasnya terlihat tua ditambah raut yang pasi. Ia mengenakan gamis sederhana dengan ember yang bertengger di pinggangnya. Langkahnya makin cepat beralih ke pekerjaan lain. Ya, ia adalah seorang ibu rumah tangga yang melakukan tugasnya tanpa keluh.
Suatu hari, ia mengajak Ester putrinya untuk mengambil mangga di kebun Mbah Rini. Mereka mulai mencari mangga yang terlihat sudah matang. Di tengah kesibukan itu, terbesit di pikiran Ester untuk bertanya pada Ibunya, “Bu, kenapa sih Ibu kayak gak punya capek sama sekali? Dari pagi sampai malam masih aja ngurus rumah.” Kemudian ibunya menjawab dengan senyum tulusnya, “Itu sudah kewajiban Ibu, Nak. Asal kamu tahu Nak, lelahnya Bapak saat bekerja itu jauh lebih besar dari pada Ibu yang hanya sibuk berkutat di rumah.” Ester hanya terdiam mendengarnya. Ia hanya mampu merenung akan perjuangan ibu juga bapaknya untuk menghidupi keluarga kecil mereka.
Setiap hari bapaknya bekerja keras demi keluarga tanpa kenal lelah. Selalu begini nasib keluarga kecil yang sederhana itu. Setiap hari, bulan, hingga tahun kehidupan mereka tetap sama saja. Sampai Ester beranjak remaja, kehidupan mereka malah semakin sulit. Apalagi saat itu Ester sudah menginjak kelas 9, dimana kebutuhan sekolah semakin meningkat. Dalam sebulan saja, untuk mengikuti kegiatan sekolah dan bimbingan belajar telah menghabiskan uang yang cukup banyak. Ditambah uang bensin yang harganya juga naik. Selain itu, Ester juga didorong untuk menahan semua apa yang diinginkannya seperti pada saat melihat kebanyakan temannya yang seperti gampang sekali untuk mengeluarkan uang. Ester ingin masa depannya lebih baik dari keadaan keluarganya yang sekarang.
Tiga tahun kemudian, Ester telah masuk SMA negeri di dekat tempat tingalnya. Usaha belajar dan tidak pantang menyerah, membuahkan kesuksesan di SMP-nya dulu. Kini ia juga mencantumkan prestasinya kembali di SMA dalam kejuaraan nasional. Ditambah sekarang ia menjadi pengikut aktif kegiatan salah satu organisasi di sekolahnya. Meskipun meraih prestasi yang gemilang, ia tidak pernah lupa dengan teman-teman serta orang-orang yang paling berjasa dalam prestasinya kini, yaitu guru–guru yang sabar mengajarinya ilmu pengetahuan dan tak akan pernah dilupa pula kedua orang tua yang selalu berusaha dan mendoakan dalam meraih cita-citanya.
Kini Ester akan segera lulus SMA. Sekarang ia sedang sibuk untuk persiapan menghadapi ujian sekolah. Ia rela belajar jauh-jauh hari untuk mendapatkan nilai ujian yang diharap mampu membawanya melanjutkan ke perguruan tinggi impiannya. Ester begitu tekun menyiapkan diri menghadapi ujian kali ini. Betul kata pepatah bahwa hasil tidak akan menghianati usaha, Ester begitu gembira akhirnya ia lulus dengan sangat baik dan mendapatkan urutan pertama dengan nilai terbaik di sekolahnya.
Beberapa tahun kemudian, kehidupan keluarga Ester perlahan semakin membaik. Dulunya yang kesulitan hanya untuk sekedar makan dan memenuhi kebutuhan sehari–sehari, kini telah ia lewati. Sekarang ia bekerja sebagai guru di salah satu sekolah, serta menjadi pengurus suatu organisasi penyalur kreativitas dan keterampilan bagi seluruh masyarakat yang ingin menyalurkan potensinya tanpa dipungut biaya. Ester hanya ingin membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Kini Ester juga telah menikah dengan seorang pria yang mencintai keluarganya. Namanya Easan, seorang abdi negara yang disiplin dan bertangung jawab atas tugasnya. Orang tuanya pun bahagia, melihat sang putri sudah menjadi orang yang berhasil. Kini Ester pun telah sanggup memberangkatkan kedua orang tuanya untuk beribadah ke Mekah. Keberhasilan Ester tidak akan tercapai jika tanpa usaha dan uluran tangan Tuhan, teman-teman, guru-guru, serta orang tua yang selalu mendoakan Ester agar berhasil.
_Anya
