Realita FKIP UNS sebagai Fakultas yang Inklusi

Kampus sebagai sarana pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi tempat setiap individu tanpa dipandang latar belakang sosial, ekonomi, etnis, agama, gender, maupun disabilitas juga dapat merasa aman, diterima, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan gelar yang sama dengan mahasiswa normal lainnya. Karena pada dasarnya mereka memiliki keinginan untuk bisa menggapai mimpi menjadi sarjana dan gelar lain untuk menyempurnakan apa yang mereka rasa terhadap dirinya, yang mungkin banyak dianggap tidak bisa melakukan apa-apa karena berkebutuhan khusus.

Namun, realitas di lapangan terutama di kampus saya sendiri, Universitas Sebelas Maret belum sepenuhnya mencerminkan semangat inklusivitas ini. Masih banyak mahasiswa yang menghadapi hambatan struktural maupun kultural dalam mengakses pendidikan yang layak dan adil. Misal mahasiswa disabilitas seringkali tidak mendapatkan fasilitas penunjang yang memadai, baik dari segi infrastruktur fisik seperti aksesibilitas gedung. Tak jarang mereka menghadapi stereotip atau perlakuan diskriminatif dari lingkungan kampus, baik terang-terangan atau tersirat.

Salah satu contoh yang sangat saya sayangkan adalah ketika melihat fasilitas dan aksesibilitas di gedung kampus tidak memadai untuk mahasiswa berkebutuhan khusus. Beberapa bulan lalu, tahun 2024 saya diamanahi menjadi ketua hari disabilitas internasional disitu saya mendapat arahan dari beberapa dosen di prodi saya yang secara singkatnya beliau mengatakan bahwa lebih baik mengadakan salah satu acara hari disabilitas internasional di dalam kampus. Namun, ketika saya menyoroti salah satu gedung di FKIP yang cocok dan memadai untuk mengadakan acara, saya harus mengurungkan niat saya dan teman-teman panitia lain karena merasa bahwa aksesibilitas di gedung tersebut belum bisa dipergunakan untuk mengadakan salah satu rangkaian acara hari disabilitas internasional. Padahal visi misi peringatan hari disabilitas internasional pada saat itu, ialah mengenalkan anak berkebutuhan khusus pada khalayak umum termasuk pada mahasiswa lain dalam kampus UNS dengan tujuan supaya anak berkebutuhan khusus tidak hanya dilihat dari kurangnya tapi juga kelebihan mereka yang kita sendiri sebagai manusia dengan kondisi yang normal pun belum tentu bisa seperti mereka.

Rasanya sangat disayangkan ketika gedung utama yang ada di fakultas belum bisa dipergunakan dengan layak ketika ada acara yang melibatkan mahasiswa atau teman-teman disabilitas. Tidak hanya itu saja, mungkin juga menyulitkan bagi mahasiswa disabilitas atau berkebutuhan khusus yang ingin mengurus surat atau hal lain di gedung tersebut. Memang beberapa gedung lain dalam kampus beberapa sudah ada yang ramah disabilitas, tapi bukankah lebih baik semuanya diberikan fasilitas yang merata agar tidak ada kesenjangan atau diskriminasi bagi anak berkebutuhan khusus dalam hal apapun di dalam kampus. Inklusivitas bukan hanya soal menerima perbedaan, tapi juga tentang menciptakan sistem dan budaya yang aktif merangkul keberagaman.

Infrastruktur kampus juga perlu dirancang secara universal, hingga dapat diakses oleh semua mahasiswa tanpa pengecualian. Misal dengan menyediakan jalur kursi roda, lift yang ramah disabilitas, toilet netral gender, serta teknologi pendukung seperti software pembaca layar untuk mahasiswa tunanetra. Di sisi lain, aspek kultural juga tak kalah penting. Kampus harus aktif membangun budaya yang menghargai keberagaman dan inklusif, baik melalui pelatihan bagi dosen dan staf mengenai kesadaran inklusi, maupun dengan kegiatan kemahasiswaan yang membuka ruang dialog lintas identitas. Peran organisasi mahasiswa, menurut saya sangat penting dalam hal ini, karena mereka berada di garis depan dalam membentuk dinamika sosial kampus dan dapat menjadi akses dalam menyuarakan aspirasi dari mahasiswa berkebutuhan khusus yang merasa diperlakukan tidak layak ataupun kurang mendapatkan fasilitas dan aksesibilitas yang cukup.

_Ira Novia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *