Surakarta — 8 Juli 2025 Universitas Sebelas Maret (UNS) resmi melepas 3.868 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung berbagai tema reguler dan kemitraan, kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat.
KKN yang dilaksanakan selama 45 hari ini menjadi momen penting bagi mahasiswa semester akhir untuk mengaplikasikan ilmunya secara langsung kepada masyarakat. Seperti yang dirasakan oleh Dayat, mahasiswa Peternakan, yang ditempatkan di Klaten. “Program kerja kami mengarah pada pengelolaan pupuk, pemanfaatan limbah peternakan, sosialisasi teknologi pertanian seperti hidroponik,” ujarnya (8/7). Namun, ia juga mengeluhkan kurangnya kejelasan informasi menjelang KKN. “Informasi dari panitia sering simpang siur dan serba dadakan. Bahkan mahasiswa harus inisiatif sendiri mencari informasi,” tambahnya (8/7). Dayat juga menyampaikan kekhawatirannya soal pencairan dana. “Sampai hari pelepasan pun dana belum cair,” ujarnya (8/7).
Hambatan dalam pelaksanaan KKN juga dirasakan oleh Kurniawan, mahasiswa Teknik Sipil yang ditempatkan di Prambanan. Ia menyebut bahwa sistem KKN cukup baik, namun revisi proposal yang terus-menerus menjadi tantangan tersendiri, meskipun demikian Kurniawan menyambut positif pelaksanaan KKN. “Senang sih, karena bisa ketemu lingkungan dan teman baru. Harapannya semua bisa selesai dengan lancar, dan semoga konsultasi offline bisa lebih dimaksimalkan untuk ke depannya,” ujarnya (8/7).
Sementara itu, dari daerah yang cukup jauh, Hanif dari Prodi Administrasi Negara ditempatkan di Pacitan. Kelompok Hanif menjalankan program seperti branding produk lokal, pelatihan pembuatan CV, dan edukasi uang palsu bagi anak-anak SD. “Senang sekali melaksanakan KKN, karena dapat networking baru, pengalaman baru, bisa jadi kenangan buat suatu saat nanti,” ujar Hanif (8/7). Kendala lain datang dari proses internal kelompok. “Waktu penyusunan proposal cukup sulit karena butuh adaptasi. DPL kami juga kurang responsif sehingga komunikasi agak lambat,” tambahnya (8/7). Namun, semangat Hanif tetap tinggi. Ia berharap suatu saat lokasi KKN UNS bisa menjangkau skala internasional. “Biar bisa belajar budaya baru juga,” ujarnya (8/7).
Mahasiswa berharap untuk ke depannya informasi dan sistem pelaksanaan KKN bisa lebih jelas, terstruktur, dan transparan. Hal ini penting agar para peserta lebih siap dalam menjalankan program, menjaga sinergi dengan masyarakat desa, serta memperkuat kontribusi nyata UNS terhadap pembangunan daerah.
_Syiva
